PKP

Masyarakat Perlu Memahami Nilai-nilai Kebangsaan agar Indonesia Tak Jadi Negara Gagal
Oleh : Irawan
Jum\'at | 09-11-2018 | 08:04 WIB
_20181109_065344.JPG honda-batam
Anggota MPR Idris Laena dari Fraksi Partai Golkar membuka pagelaran Seni dan Budaya di Kuansing, Riau

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Anggota MPR Fraksi Partai Golkar asal Riau, Idris Laena, membuka pagelaran seni Budaya Melayu Kuantan Singingi (Kuansing) di Desa Pintu Gobang, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) Provinsi Riau. Selain membuka pagelaran tersebut, Idris yang Ketua Badan Penganggaran MPR itu menyosialisasikan Empat Pilar MPR.

"Kita bersyukur Taluk Kuantan, khususnya Kenegerian Kari, memiliki kesenian yang sangat membanggakan," ungkap Idris dalam keterangan tertulis, Kamis (8/11/2018).

Politisi Golkar kelahiran Indragiri Hilir, Riau, ini pun senang karena sosialisasi ini bisa dilakukan melalui seni budaya Dendang, Randai, Rarak Godang atau Rarak Celempong.

"Sosialisasi Empat Pilar MPR adalah sebuah keinginan untuk memberi kesempatan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk dapat memahami nilai-nilia kebangsaan yang kita miliki," jelas Idris Laena.

Lebih lanjut dia menjelaskan empat nilai kebangsaan yang perlu dipahami oleh rakyat Indonesia. Pertama, sebagai bangsa, Indonesia memiliki ideologi, falsafah, dan dasar negara yang disebut Pancasila.

Kedua, UUD NRI Tahun 1945 sebetulnya mengatur hak dan kewajiban setiap warga negara, dan oleh karenanya wajib hukumnya bagi seluruh rakyat Indonesia untuk memahaminya.

"Ketiga, kita adalah negara besar, berada pada urutan ke-empat dari 180 negara di dunia dari segi jumlah penduduk, setelah RRT, India, dan Amerika Serikat," sambung dia.

Jadi menurut Idris, secara demografis bisa membayangkan Indonesia sebagai negara yang penduduknya 255 juta ini harus dijaga. Oleh karena itu, penting pemahaman masyarakat tentang nilai-nilai kebangsaan yang dimiliki Indonesia.

"Kita tidak ingin negara kita menjadi negara gagal, negara yang terpecah-pecah. Karenanya, bagi kita NKRI adalah harga mati," ujarnya.

Dia melanjutkan poin keempat adalah Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia, katanya, selalu memberi gambaran bahwa negara ini mempunyai suku yang berbeda, agama berbeda, tetapi dengan adanya Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara maka negara ini selalu menjadi negara yang aman, tenteram.

"Maknanya, biarpun kita berbeda-beda, tapi kita tetap satu," katanya.

Selanjutnya, Idris juga menyinggung soal pemilu yang sebentar lagi akan berlangsung di Indonesia. Sebetulnya, menurut Idris, pemilu adalah proses demokrasi yang diatur di dalam Pancasila.

Idris berharap biarpun berbeda pilihan, berbeda pandangan, berbeda suku, dan lainnya maka perbedaan itu tidak boleh membuat saling terpecah belah satu dengan lainnya.

"Kita bersyukur, Indonesia adalah satu dari tidak banyak negara di dunia, meskipun begitu banyak suku dan bahasa, tapi kita tetap bisa bersatu dalam benteng Negara Kesatuan Republik Indonesia," jelas dia.

Sementara Kepala Biro Administrasi dan Pengawasan Setjen MPR, Suryani, mengungkapkan rasa bangganya melihat seni budaya dan adat istiadat yang begitu luar biasa. Ketua panitia pelaksana pagelaran seni budaya di Kuansing ini pun senang karena aktifnya partisipasi masyarakat yang membuat pertunjukan begitu meriah.

Menurut Suryani, ini membuktikan bahwa upaya MPR untuk mengangkat dan melestarikan kebudayaan tradisional daerah sudah menemui sasarannya.

"Jadi, pagelaran seni budaya ini selain tujuannya untuk sosialisasi Empat Pilar MPR juga untuk mengangkat seni budaya serta adat istiadat masyarakat setempat," ujar perempuan asal Nganjuk, Jawa Tmur, ini.

Lebih lanjut Suryani menjelaskan, MPR melaksanakan sosialisasi Empat Pilar sudah dimulai sejak tahun 2005, di awali sosialisasi Putusan MPR hasil amandemen, yaitu UUD NRI Tahun 1945 dan Ketetapan MPR.

Namun, setelah kegiatan sosialisasi ini berkembang menjadi Sosialisasi Empat Pilar maka kegiatan sosialisasi dilaksanakan dengan berbagai metode, antara lain seminar, outbound, lomba cerdas cermat (LCC) Empat Pilar, dan masih banyak metode lainnya.

Salah satu pemandangan yang menarik dalam pagelaran seni budaya di Kenegerian Kari malam itu adalah tampilnya para tokoh masyarakat dan kaum ibu, termasuk Idris Laena dan Suryani, dalam satu lingkaran.

Lagu Lamak dek awak, kelayu dek urang didendangkan oleh biduan diiring grup Dendang Kamari Jadi, dan para tokoh itu pun sontak bergerak maju dalam lingkaran sembari bergoyang dalam tarian Randai. Suasana pun menjadi hangat, meski malam itu udara mendung diselingi gerimis kecil. Dan, semua bergembira.

Sebagai informasi, Desa Pintu Gobang adalah sebuah desa yang letaknya sekitar 170 km dari Kota Pekanbaru atau dengan jarak tempuh kurang lebih empat jam menggunakan kenderaan roda empat.

Sosialisasi Empat Pilar MPR di Bumi Kuansing, selain dihadiri oleh Idris Laena juga dihadiri oleh Kepala Bagian Pemberitaan, Hubungan Antarlembaga, dan Layanan Informasi Biro Humas MPR, Muhamad Jaya; Ketua Masyarakat Adat Kenegerian Kari, Yulizar; Kepala Desa Pintu Gobang, M. Seni, bersama para kepala desa lainnya yang tergabung dalam Kenegerian Kari, para pemuka agama, para datuk, para pemuda, dan tamu undangan lainnya.

Editor: Surya