PKP

22 Tewas dan 15 Orang Hilang Akibat Banjir Sumut dan Sumbar
Oleh : Redaksi
Sabtu | 13-10-2018 | 16:52 WIB
banjir-sumbar.jpg honda-batam
Kondisi rumah yang rusak akibat banjir bandang di Nagari Tanjung Bonai, Lintau Buo, Kab.Tanah Datar, Sumatera Barat. (Antara/McAeil)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Sebanyak 22 orang dilaporkan tewas akibat bencana banjir dan longsor di Sumatera Utara serta Sumatera Barat per Sabtu (13/10/2018).

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bencana banjir dan longsor ini terjadi akibat hujan lebat sejak Kamis (11/10/2018).

"Pagi ditemukan dua korban meninggal lagi akibat kendaraan masuk sungai dan hanyut. Korban meninggal adalah satu orang Polisi dari Polsek dan satu orang pegawai PT Bank Sumut," kata Sutopo dalam keterangan tertulis, Sabtu (13/10/2018).

Sutopo menyatakan, selain warga meninggal, data sementara yang dilaporkan BPBD Provinsi Sumatera Utara dan Sumatera Barat menyebutkan ada 15 orang hilang dan puluhan orang luka-luka.

Mereka tersebar di empat wilayah yaitu di Kabupaten Mandailing Natal, Kota Sibolga, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Pasaman Barat.

"Sementara ada sembilan kecamatan yang terkena banjir dan longsor di Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara yaitu Kecamatan Natal, Lingga Bayu, Muara Batang Gadis, Naga Juang, Panyambungan Utara, Bukit Malintang, Ulu Pungkut, Kota Nopan dan Batang Natal," lanjut dia.

Adapun warga yang meninggal terdiri dari siswa yang sedang melaksanakan jam belajar. Mereka tertimpa bangunan yang hancur karena badai dan banjir di Desa Muara Saladi, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.

"Sebelas murid madrasah meninggal dunia tertimpa bangunan yang hancur diterjang banjir bandang pada Jumat (12/10/2018)," jelasnya.

Sutopo menjelaskan kejadian berlangsung mendadak. Sungai Aek Saladi tiba-tiba mengalir dengan debit besar dan membawa lumpur dan meluap sehingga menerjang madrasah.

"Jumlah korban hilang masih dapat berubah karena belum dapat dipastikan. Korban tertimbun lumpur dan material tembok yang roboh," terang dia.

Ia menambahkan sejauh ini dampak banjir bandang dan longsor di Mandailing Natal lain adalah 17 unit rumah roboh, lima unit rumah hanyut, ratusan rumah terendam banjir dengan ketinggian 1-2 meter di Kecamatan Natal dan Muara Batang Gadis. Ada sebanyak delapan titik longsor berada di Kecamatan Batang Natal.

Kini tim di lapangan sedang menjalankan evakuasi penyelamatan. Kondisi medan berada di sekitar pegunungan, pinggir hutan dan akses sulit dijangkau karena rusak.

"BPBD Mandailing Natal, BPBD Provinsi Sumatera Utara, TNI, Polri, SAR Daerah, SKPD, PMI, dan relawan menangani darurat bencana," ujarnya.

Bupati setempat telah menetapkan status tanggap darurat banjir dan longsor di Kabupatern Mandailing Natal Sumatera Utara selama 7 hari 12-18 Oktober 2018. Kebutuhan mendesak adalah bahan makanan pokok dan alat berat.

Sumber: CNN Indonesia
Editor: Yudha