Sudah Banyak Nyawa Melayang, Tunggu Apa Lagi
Oleh : Irwan Hirzal
Kamis | 17-03-2016 | 08:00 WIB
tangki-terbalik-sekupang.jpg
Tangki minyak yang terguling di akses jalan Sekupang. (Foto: Dok Batamtoday.com)

AKSES jalur utama di sepanjang jalan dari Sekupang menuju Batuaji, Kota Batam, sering terjadi kecelakaan lalu lintas. Mulai dari laka tunggal hingga "adu kambing". Apa yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk menghindari lebih banyak nyawa melayang? Berikut catatan wartawan BATAMTODAY.COM, Irwan Hirzal. 

Sudah banyak korban luka, baik ringan bahkan tewas di tempat di sepanjang jalan yang menghubungkan antara Batuaji dan Sekupang. Langkah Dinas Perhubungan Kota Batam memasang rambu-rambu, seakan tidak ada artinya. Kecelaan terus saja terjadi. 

Penelusuran BATAMTODAY.COM di sepanjang jalan dari STC menuju Perumahan Bukit Tiban Permai, memang jalur tersebut sudah dibuat empat lajur. Dua lajur menuju Seitemiang dan dua lajur sebaliknya. Sehingga, di jalur ini, jarang terjadi kecelakaan lalu lintas.

Tapi, begitu sudah melintasi Perumahan Bukit Tiban Permai. Para pengendara ranmor (kendaraan bermotor) harus berhati-hati, apalagi roda dua. Karena mereka akan bertemu dengan jalan yang sempit, lantaran hanya ada satu lajur kiri dan kanan. Ini yang membuat sering terjadi kecelakaan. Apalagi, jalan tersebut penuh dengan lubang dan minim rambu lalu lintas di sepanjang Jalan Kartini.

Seperti yang terjadi Rabu, 7 Maret 2016 pukul 21.30 Wib, dua pengendara sepeda Yamaha Vega BP 4651 DR, yang dikendarai oleh Soleh Sopian bersama Sarmila, tewas di Jalan Kartini, 10 meter setelah kebun pembibitan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Bukit Mata Kucing atau 20 meter dari tikuan tajam kekanan dari arah Batuaji.

Soleh dan Mila tewas seketika setelah dihantam Nisa Patriot BP 188 ZF yang melaju dari arah yang sama Batuaji menuju Sekupang. Di lokasi kejadian tampak jalan tidak rata lantaran penambalan badan jalan yang terlihat tak sempurna. Hal itu membuat jalan tersebut tidak rata.

Seharusnya, di sana dipasang rambu-rambu lalu lintas yang ditujukan agar para pengendara mengurangi kecepatan, hati-hati atau rambu yang menunjukan jalan tidak rata. 

"Di sini rawan kecelakaan, hari-hari saya lihat kecelakaan sepeda motor maupun mobil di tikungan itu. Karena jalurnya memang jalannya tidak rata," kata Yadi Siahan, seorang tukang tambal ban yang "buka praktik" tepat di depan kebun pembibitan DKP Batam itu. 

Yadi mengaku, memang kecelakaan yang menewaskan Soleh Sopian hari lalu itu, tidak dilihatnya langsung. Namun dilihat di lokasi kejadian yang terjadi malam hari jalur tersebut cenderung lampu penerangan jalan yang hanya di bagian sebelah kanan juga menjadi salah satu faktor. 

Karena dua puluh meter dari lokasi tabrakan, muncul Toyota Avanza Veloz BP 1198 GJ yang muncul dari arah Sekupang menuju Batuaji dengan kecepatan tinggi setelah melintasi tikungan. Sementara itu, pengendara sepeda motor Vega saat itu hendak menyelip Nissan Patriot.

"Kalau dari arah sekupang sudah melaju sangat kencang, pasti kecelakaan tidak akan terhindar lagi. Karena bersamaan dari arah berlawanan juga datang kendaraan roda empat yang juga dengan kecepatan kencang. Apalagi, ada yang mau nyalip. Kemarin ada mobil yang mau belok kekanan, masuk ke taman pembibitan dari arah Batuaji. Sementara dari arah berlawanan datang sepeda motor dengan kecepatan kencang kecelakaan itu pun tidak bisa dihindari," paparnya. 

Tidak sampai di situ, jalur dari taman pembibitan DKP menuju wisata Mata Kucing, juga ditemukan jalan yang tidak rata akibat penambalan jalan tidak merata. Rambu-rambu lalulintas juga tidak terlihat.

Hari berikutnya, dua sepeda motor Honda Beat putih biru BP 3175 CF dan Honda Verza BP 369 DE, adu kambing. Beruntung kedua pengendara selamat hanya mengalami luka-luka dan dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah.

Setelah melintasi Wisata Mata Kucing, pengendara akan bertemu belokan ke kanan yang sangat tajam atau tikungan ganda kanan dan kiri. Di jalan tersebut tidak satu pun ditemui rambu-rambu lalu lintas dari Dishub. Yang ada hanya peringatan dari Jasa Raharja, "Awas berbahaya kurangi kecepatan sering terjadi kecelakaan".

Dua tikungan yang tidak jauh dari tempat pemakaman umum, Seitemiang juga tampak jelas badan jalan yang berlubang dan tidak merata bahkan batu kerikil aspal pun sudah terlihat jelas.Begitu menuju lampu merah Simpang Tobing, pengendara juga akan bertemu dengan jalan yang tidak dilakukan penebaan aspal. 

"Kamarin itu jalan provinsi, sekarang menjadi jalan nasional. Pusat yang langsung menangani, termaksuk pelebaran jalan menjadi empat lajur," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Yumasnur saat dihubungi BATAMTODAY.COM.

Setelah melihat semua fakta tersebut, apa lagi yang ditunggu Pemerintah Kota Batam? Dengan duet "nahkoda" barunya, semoga mereka akan segera memperhatikan masalah ini. Sudah banyak nyawa melayang di sana. Lakukanlah langkah-langkah strategis untuk menghindari pengenara lalin mati sia-sia. 

Editor: Dardani