Pengalihan Aset dari BP Batam ke Pemko Masih Terhambat, Ini Penyebabnya
Oleh : Irwan Hirzal
Kamis | 14-09-2017 | 14:38 WIB
Sekda-Batam-Jefridin1.gif
Jefridin, Sekda Kota Batam. (Foto: Good News)

BATAMTODAY.COM, Batam - Pengalihan aset dari BP Batam ke Pemko Batam, sampai sejauh ini belum terealisasi. Banyak terkendala dan permasalahan yang terjadi, meskipun Pemko Batam sudah mengajukan beberapa asat yang harus dikelola.

Jefriddin, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam menyatakan, sudah banyak aset BP Batam yang diusulkan Pemko, namun satupun berlum terealisasi. Aset tersebut seperti TPA Telaga Punggur, Pasar Induk Jodoh hingga Masjid Raya.

"Sudah banyak yang kami usulkan, tapi satupun belum diserahkan. Tapi yang mendekati penyerahkan aset ada enam lokasi," ujar Jefriddin beberapa waktu lalu.

Namun yang terkendala saat ini, BP Batam tidak menyerahkan sepenuhnya aset tersebut ke Pemko Batam. Salah satu contoh TPA Punggur BP Batam hanya menyerahkan 26 hektar, padahal luas lahan tempat penampungan akhir sampah tersebut mencapai 46 hektar.

Hal ini yang membuat Pemko Batam enggan menerima aset tersebut. Ia juga menilai BP Batam lambat dalam penyerahan aset tersebut.

"Orang sebelah itu lambat, kami sudah surati sampai Kementerian Keuangan. Wali Kota perintahkan ke saya kalau separuh diberikan, kita tidak akan terima. Kalau TPA tidak diberikan semua kita akan serahkan sampah-sampah ke mereka. Biar mereka yang mengelola sampah," tegasnya.

Bahkan tidak hanya TPA Telaga Punggur yang hanya diserahkan setengah, kata Jefriddin ini juga terjadi pada Pasar Induk Jodoh. BP Batam hanya memberikan bangunan, sementara lahan tidak diserahkan.

"Dikasi setengah-setengah kita tidak mau. Masak bangunan dikasih tapi tanah tidak," ujar Jefriddin.

Lambatnya penyerahan aset ini sangat berpengaruh dalam kinerja Pemko Batam. Karena beberapa kegiatan 2018 mengalami kendala. Pasalnya beberapa aset tersebut sudah dianggarkan beberapa OPD.

"Tahun ini kita sudah anggaraakn di APBD Perubahan tapi kita sudah tunda. Namun tahun depan sudah kita anggarkan," pungkasnya.

Editor: Yudha


BNN-KEPRI