Mengantisipasi Ancaman Militan Marawi
Oleh : Redaksi
Rabu | 30-08-2017 | 09:02 WIB
ilustrasi_isis_di_merawi.jpg
Ilustrasi kehadiran ISIS di Merawi. (Foto: Ist)

Oleh Sasman Hadi S.Ag

DUNIA dikejutkan dengan sepak terjang ISIS, karena sebelumnya mereka membuat beberapa negara eropa dan timur tengah bergejolak, saat ini atau tepatnya pada 23 Mei 2017, militan yang berafiliasi dengan ISIS sudah mulai masuk di daratan Asia Tenggara tepatnya di Kota Marawi Filipina.

Baku tembak antara kelompok bersenjata dan personel Brigade Infantri ke-103 di Marawi City berawal pada sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Sejumlah saksi mata mengatakan, melihat sekelompok orang mengenakan atribut yang mirip dengan ISIS berada di jalanan sebelum menembaki rumah-rumah dan bangunan pemerintah.

Pada hari penyerangan itu, tidak ada indikasi akan muncul serangan seperti ini karena tak ada pos-pos pemeriksaan di dalam kota. Semuanya senyap, tidak ada kabar dari pemerintah kota, kondisinya tidak jelas.

Aparat keamanan setempat menduga kelompok itu adalah Negara Islam Lanao atau dikenal juga dengan nama kelompok Maute yang dikabarkan mendapat dukungan dari ISIS. Kelompok ini terdiri atas mantan anggota Front Pembebasan Islam Moro (MILF) dan sejumlah warga negara asing. Nama kelompok ini diambil dari nama pendirinya, Abdullah Maute.

Atas kejadian tersebut negara Filiphina memberlakukan darurat militer ke seluruh kota Marawi, dan masyarakat sipil harus segera meninggalkan Marawi karena suasana sudah tidak kondusif. Darurat militer bukan pekerjaan mudah karena walaupun telah di bantu oleh AS melalui serangan udara.

Konflik di Marawi sampai saat ini sudah memasuki minggu kelima, belum terlihat tanda akan berakhir, jumlah korban pun dilaporkan telah bertambah hingga 370 orang. Pertempuran itu telah mengubah wajah Marawi dari pusat perdagangan yang ramai menjadi kota yang mirip dengan wilayah perang di Irak atau Suriah.

Dampak dari serangan militer ke Kota Marawi menjadikan kota Marawi rusak berat dan menjadi reruntuhan. Tindakan itu harus dilakukan pemerintah Filipina demi menghancurkan kelompok teroris berafiliasi dengan ISIS tersebut agar segera dapat dikendalikan dan para militannya dapat menyerahkan diri atau mati dalam peperangan.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto untuk mengantisipasi masuknya militan Marawi kewilayah Indonesia akibat tekanan militer Filiphina maka pemerintah akan memperketat daerah perbatasan terkait. TNI dan Polri akan berkoordinasi dengan masyarakat di daerah pulau terluar tersebut. Polri akan mengantisipasi milisi dari Mindanao masuk ke Indonesia, karena Mianggas dan Marore itu bisa ditempuh hanya lima jam dari Davao, Filipina Selatan.

Negara kita yang dekat dengan negara Philipina memang harus mewaspadai masuknya kelompok radikalisme pendukung ISIS di Marawi Filipina ke wilayah Indonesia.

Seluruh elemen masyarakat harus dapat membantu aparat keamanan agar kelompok mereka tidak melarikan diri ke daerahnya. Karena apabila para militan tersebut menyeberang kenegara kita bukan tidak mungkin negara kita atau daerah yang disinggahinya akan menjadi seperti Marawi, bergejolak.

Daerah yang disinggahi akan menjadi pertempuran antara pemerintah dengan milisi dan yang dirugikan adalah masyarakat karena kegiatan sehari hari dan jiwanya menjadi terancam. Menjalani kehidupan akan tidak aman dan daerah tersebut akan mundur kebelakang karena infrastrukturnya pastinya akan rusak.

Langkah cepat TNI yang telah menyiapkan enam KRI untuk mengawal perbatasan Indonesia-Filipina mencegah masuknya Militan militan Maute dari Marawi patut diapresiasi untuk mencegah mereka masuk ke Indonesia.

Semua elemen masyarakat terutama di daerah perbatasan harus membantu aparat kemanan untuk melakukan pengamanan wilayah bersama–sama, antara lain dengan melakukan kembali siskamling, dan melaporkan hal-hal mencurigakan ke aparat keamanan. Kita jangan lengah, dikhawatirkan apabila lengah maka mereka dapat masuk.

Kita pastinya tidak ingin militan Filipina dan sekutunya menyebereng kenegara kita dan menjadikan negara kita seperti negara negara Timur Tengah maupun negara negara lainnya yang mereka lakukan dengan kekacauan.

Kita berharap milisi yang katanya membela dan membawa bawa nama Islam seharusnya menggunakan bulan Ramadhan ini sebagai sarana mengevaluasi diri, bukam malah membuat kekacauan. Kita berharap mereka menyadari bahwa apa yang mereka yakini sebagai jihad adalah tidak benar karena mereka hanya akan menyakiti dan menghancurkan hidup mereka sendiri dan orang lain.

Ajaran Islam memerintahkan kita agar mengasihi semua makhluk hidup atau Islam yang Rahmatan Lil alamin atau Islam untuk seluruh alam ini. Islam tidak bisa membenarkan praktik-praktik kejahatan atau terorisme. Sebab menyerang, merampok, menyebar teror dan ketakutan dilarang dalam Islam. Apa yang dilakukan militan di Marawi ini jelas bertentangan dengan ajaran ajaran Islam.Namun demikian kita harus antisipasi ideologi mereka akan membawa anak anak bangsa kita mengikuti pemikiran mereka.

Harapan kita, Negara Philipina mampu menyesaikan krisis di Marawi dengan cepat dan tidak berlarut larut, dengan dapat menangkap militan baik secara hidup maupun mati sehingga apa yang kita khawatirkan para militan Marawi lari ke wilayah Indonesia tidak terjadi.

Namun demikian, kita tetap harus waspada, untuk menghindari negara kita terutama daerah daerah perbatasan yang rentan masuknya militan trutama pelarian dari Marawi akibat tekanan dari militer Philipina maka semua pemangku kepentingan atau stake holder yang dibantu dengan masyarakat setempat dapat bersinergi didalam memantaunya.

Semoga dengan bersatunya seluruh elemen negara kita akan tetap aman dan kelompok kekeraan tidak bisa berkembang di bumi Indonesia.*

Penulis adalah Pemerhati Radikalisme


BNN-KEPRI