KM Sembilang Tak Diizinkan Berlayar, Ratusan Penumpang Tujuan Dabo Terlantar
Oleh : Romi Chandra
Minggu | 18-06-2017 | 08:30 WIB
roro-ricuh2.jpg

BATAMTODAY.COM, Batam - Kericuhan nyaris terjadi di Pelabuhan ASDP Punggur, Sabtu (18/6/2017) malam. Ratusan penumpang tujuan Dabo Singkep, Lingga, kecewa karena kapal Roro KM Sembilang, yang dijadwalkan berangkat pukul 19.00 Wib, hingga pukul 24.00 WIB tidak kunjung diberangkatkan.

Dari informasi yang didapat, izin berlayar KM Sembilang tidak dikeluarkan Syahbandar dengan alasan kelebihan muatan.

Namun pihak Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP), dalam hal ini Syahbandar, tidak memberikan solusi dan jawaban yang cepat, sehingga bisa menyelesaikan masalah dan tidak perlu membuat penumpang terlantar hingga enam jam.

Manajer Olerasional ASDP Cabang Batam, Adolf Enoch, menyampaikan, kejadian tersebut di luar perkiraan pihaknya. Sebab, sesuai dengan data tahun lalu, lonjakan penumpang akan terjadi tiga atau empat hari menjelang Lebaran. Namun kali ini, baru memasuki sembilan hari sebelum Lebaran lonjakan penumpang cukup drastis.

"Kami hanya menjual tiket kapal untuk 300 penumpang, sesuai dengan aturan dan kapasitas serta jumlah alat keselamatan. Namun jumlah penumpang justru melebihi jumlah tiket. Penumpang yang tidak memikiki tiket juga memaksa naik ke kapal," ungkap Adolf di lokasi.

Ia juga menyayangkan pihak Syahbandar yang tidak berada di lokasi saat penumpang memaksa masuk, sehingga pihaknya saja yang diserang penumpang, karena tidak kunjung berangkat.

"Penumpang mana mau tahu tentang kapasitas atau lainnya. Yang kami sayangkan, seharusnya Syahbandar selaku yang menyetujui Surat Permohonan Berlayar (SIB) harus berada di lokasi. Ini justru SPB dibawa pulang oleh Kepala Pos Syahbandar yang disini. Maksudnya seperti itu untuk apa?" ungkap Adolf.

"Jika terjadi hal seperti ini, seharusnya ada kebijakan yang tepat dan cepat . Kami tidak mungkin berani berlayar jika SPB-nya tidak dikeluarkan. Harusnya bersama-sama menyelesaikan maslah," ujarnya kesal.

Ditambahkan, pihaknya sejak awal telah memberikan solusi, berupa meminjam alat keselamatan untuk sisa penumpang lainnya. Namun solusi itu ditolak mentah-mentah dengan alasan mutan berlebih.

"Untuk jumlah penumpang mencapai 500 sebenarnya sanggup. Semua sudah dicek dan berjalan baik. Hanya saja alat keselematan memang disediakan 300 saja. Kami sudah mengusulkan untuk meminjam alat keselamatan, tapi ditolak," lanjutnya.

Dari pihak Syahbandar sendiri, justru meminta agar digerakkan dua kapal. Namun perintah ini baru dikeluarkan setelah penumpang menunggu berjam-jam.

"Kita terpaksa harus mengerahkan satu armada KM Kundur. Karena rutenya berbeda, tentu harus berkoordinasi lagi dengan pemerintah kota merubah rutenya. Prosesnya memakan waktu lagi," terangnya.

"Kapos Syahbandar yang di sini malah pulang dan SPB kami dibawa tidur. Bahkan kami hubungi tidak diangkat. Ini kan lepas tangan namanya. Setelah situasi mulai panas, baru solusi diberikan. Ini yang kami sesalkan," tegasnya.

Kedepan, ia berharap solusi dari Syahbandar bisa lebih cepat. "Mari kita sama-sama hadapi jika ada terjadi masalah, bukan malah main tinggal begitu saja. Yang kita utamakan adalah pelayanan bagaimana penumpang aman dan nyaman," pungkasnya.

Editor: Surya


BNN-KEPRI