Fahri Ajak Generasi Muda Ekspresikan Pemikiran Kritisnya
Oleh : Irawan
Minggu | 18-06-2017 | 08:00 WIB
Fahri-1.jpg
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah saat melakukan Sosialisasi Empat Pilar di Nusa Tenggara Barat

BATAMTODAY.COM, Nusa Tenggara Barat - Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, mengungkapkan keprihatinannya atas kebekuan di kalangan aktivitas pemuda Indonesia. Menurut dia, pemuda saat ini lebih banyak berfikir dengan perasaan dan bukan dengan akal.

"Akibatnya, sangat sedikit pemuda dan mahasiswa yang mampu melihat secara kritis permasalahan bangsa, apalagi memberikan solusi atas permasalahan tersebut," kata Fahri saat berbicara dalam acara Sosialisasi Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika di Auditorium Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, Sabtu (17/6/2017).

Di hadapan pengurus daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kota Mataram, Pimpinan DPR Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Kokesrsa) ini juga mengungkapkan, alih-alih berfikir kritis dan produktif, pemuda sekarang malah terkerangkeng oleh perangkat canggih seperti smartphone.

Para pemuda menjadi beku dalam perlombaan menulis status, membuat mention dan mengejar like di media sosial.

"Dulu, jika kita melihat permasalahan bangsa, para pemuda segera berkumpul, berbicara, segera melakukan diskusi. Mereka berpidato tentang pemikiran mereka. Tapi sekarang anak-anak muda lebih senang menulis status di media sosial saja. Itulah kesibukan sebagian besar anak muda sekarang. Padahal seharusnya di masa muda ini, setiap pemuda selalu berkobar-kobar. Penuh semangat, tandas Fahri dengan intonasi tinggi," ucapnya.

Namun Fahri tidak diam. Sebagai solusi dia mengajak pemuda memahami konsepsi-konsepsi yang termuat dalam 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara. Jika para pemuda memahami dam meyakini konsepsi 4 Pilar tersebut, maka itu akan menjadi semangat dan keyakinan untuk bergerak.

"Kita contohkan saja dalam Pancasila sila pertama. Jika dilihat dari sudut pandang Islam, itu adalah tauhid. Tuhan adalah segala sesuatu yang mendominasi diri kita. Jika tiba-tiba terjadi penjajahan dengan segala bentuknya, maka itu berarti ia mengambil alih posisi Tuhan untuk mendominasi kita," tutur Fahri.

"Maka dengan memahami sila Pertama, atau memahami tauhid, akan muncul semangat perlawanan. Tauhid itu adalah dasar agama Islam yang membakar gelora semangat kita. Hal ini sudah dicontohkan oleh para Pahlawan bangsa kita, yang juga merupakan para ulama. Mereka meyakini bahwa melawan penjajah adalah wajib, dan jika mati maka mereka akan mendapat mati syahid," papar Fahri lagi.

Dia juga mengajak pemuda untuk mengekspresikan pemikiran dan pandangan kritisnya dengan berbagai metode. "Setelah itu, maka mulailah bicara. Katakan sesuatu dengan pidato, dengan music, dengan buku, dengan puisi, dan kalau perlu dengan bunga," urai Fahri seraya berharap jangan sampai ada kehilangan semangat untuk melawan dan pemuda jangan mudah menjadi orang yang dungu seperti 'kerbau yang dicocok hidung'-nya.

Deklarator KAMMI ini juga mengingatkan, dalam hidup yang singkat, bagaikan seorang musafir, maka perjalanan hidup harus direncanakan. JIka tidak, maka hidup kita berjalan dan tiba-tiba berakhir, tanpa tahu kita sudah melakukan apa saja.

"Jadi buatlah riwayat hidup anda sendiri. Tuliskan cita-cita anda, lalu impikan setiap hari," ungkap dia memotivasi para peserta.

Editor: Surya


BNN-KEPRI