Negara Harus Cari Metode dan Mode Sosialisasi Pancasila agar Kekinian
Oleh : Roni Ginting
Minggu | 27-05-2018 | 14:00 WIB
purba_pancasila.jpg honda-batam
Sosialisasi Empat Pilar Anggota MPR/DPR Djsarmen Purba kepada Forum Diskusi Pemuda Kecamatan Batu Aji, Kota Batam.

BATAMTODAY.COM, Batam - Anggota MPR/DPD RI daerah pemilihan Provinsi Kepuluan Riau (Kepri), Djasarmen Purba kembali memberikan pemahaman empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara di daerah pemilihan Provinsi Kepulauan Riau pada hari Sabtu (26/5/2018). Acara ini diselenggarakan bersama dengan Forum Diskusi Pemuda Kecamatan Batu Aji, Kota Batam di Aiwa Cafe Kec. Batu Aji.

Pada awal pemaparan materi, Djasarmen menegaskan kembali bahwa Pancasila sebagai ideologi bisa mengikat bangsa Indonesia yang demikian besar dan majemuk. Pancasila adalah konsesus nasional yang dapat diterima semua paham, golongan, dan kelompok masyarakat di Indonesia. Hanya saja, Djasarmen Purba menyoroti perihal metode dan mode dalam pengamalan Pancasila itu sendiri.

"Dalam penanaman atau pengamalan sehari hari, mungkin juga terjadi karena penanaman ideologi Pancasila yang terlalu formal.Terlalu formal dalam artian penanaman yang sekedar dibacakan saat seremonial tertentu saja, namun tidak dipelajari secara mendalam. Kita memang rutin baca Pancasila di seremonial-seremonial yang ada, tapi justru nilainya tidak mampu dipahami secara baik," ujarnya.

Selain penanaman nilai Pancasila yang kurang kreatif, perkembangan teknologi turut berperan dalam melunturkan nilai nilai Pancasila itu sendiri, melalui introduksi dan provokasi nilai nilai budaya dari luar, terutama yang berbalut dalam kemasan produk lagu, film, tari dan hiburan kreatif lainnya.

"Sehingga Negara harus mencari metoda dan mode sosialiasi Pancasila yang lebih popular, kretaif, atraktif namun tetap berbasis nilai nilai dan budaya nasional," tegas Djasarmen Purba sebagai sebuah alternatif kekinian.

Pada akhir acara, Djasarmen Purba mengingatkan peran sentral pemuda dalam menjaga dan menumbuhkembangkan nilai nilai dan budaya nasional. Terutama adat istiadat dan Bahasa yang menjadi cirri khas utama sebuah suku bangsa.

"Hal ini mengingat sudah banyak penelitian yang meramalkan potensi terhapusnya nilai dan tradisi suku bangsa tertentu di beberapa decade di masa mendatang, 30 hingga 50 tahun ke depan," tutupnya.

Editor: Surya