PKP

Siswa SMAN 1 Bintan Pesisir Harus Berhujan Panas Demi Sinyal Internet
Oleh : Harjo
Sabtu | 30-12-2017 | 14:38 WIB
SMAN1-BinPes1.gif honda-batam
SMAN 1 Bintan Pesisir. (Foto: Harjo)

BATAMTODAY.COM, Bintan - Ironis memang, saat siswa di daerah lain dengan mudah mengikuti ujian secara online, para siswa di SMAN 1 Bintan Pesisir harus rela bertahan diguyur hujan maupun terik matahari agar bisa mendapatkan akses internet.

Para siswa terpaksa bertahan di lapangan atau di bawah pohon saat ujian, untuk mendapatkan signal internet saat ujian secara online. Karena jika tidak ada akses internet, jelas siswa akan gagal ujian.

Jafar salah seorang anggota Badan Permusyawatan Desa (BPD) Desa Numbing menyampaikan, permasalahan yang dialami oleh para siswa SMAN 1 Bintan Pesisir selama ini adalah masalah jaringan internet. Sehingga mengikuti ujian secara online selalu terkendala.

"Siswa yang ikut ujian, terpaksa mengunakan jas hujan dan berdiri di tengah hutan. Karena yang ada signal internet, di tempat tersebut. Itu sudah dilakukan oleh para siswa sejak bergulirnya ujian secara online," ungkapnya kepada BATAMTODAY.COM, Jumat (29/12/2017).

Selaku orang tua, melihat kondisi tersebut jelas merasa sangat sedih dan iba. Siswa yang harus berjuang untuk mendapatkan signal internet guna mengikuti ujian secara online. "Artinya, jangan berharap mendapatkan hasil yang maksimal, justru masalah jaringan internet pun belum bisa teratasi," ujarnya.

Hal yang sama disampaikan Kepala Desa Numbing, Sabastian Solor Usman. Menurutnya permasalahan tersebut sudah disampaikan kepada instansi yang berwenang, dengan harapan agar permasalahan tersebut bisa teratasi. Demi keberlangsungan dunia pendidikan di Bintan Pesisir.

"Kalau di hari normal, memang tidak terlalu kelihatan. Tapi disaat masa ujian tiba, kita akan menyaksikan pemandangan yang menyayat hati orang tua. Melihat anak-anaknya, berjuang untuk mendapatkan akses internet saat mengikui ujian secara online," ujarnya.

Sementara itu Amri, penjaga SMAN 1 Bintan Pesisir, menyampaikan untuk fasilitas lain yang dimiliki oleh sekolah tersebut, terbilang sudah memadai termasuk perangkat komputer dan lainnya. Namun permasalahan jaringan internet hingga saat ini belum bisa terpecahkan.

"Memang kalu melihat siswa saat mengikuti ujian online dan harus berhadapan dengan minimnya jaringan internet. Bukan hanya siswa, orang tua dan masyarakat, para tenaga pendidik pun lebih merasakan bagaimana paniknya para siswa untuk menyelesaikan ujiannya, di bawah bayang-bayang minimnya akses internet," katanya.

Demi kelangsungan dan masa depan anak-anak sebagai penerus bangsa, jelas kondisi pendidikan ke depan bisa lebih baik, agar siswa yang ada di sekolah ini. Bisa mengikuti perkembangan dunia pendidikan, sama dengan rekan-rekan yang berada di daerah lainnya.

Editor: Yudha