Satu Persatu Sekolah Swasta di Tanjungpinang Terancam Gulung Tikar
Oleh : Habibi
Selasa | 18-08-2015 | 08:39 WIB
sma_pgri_tpi.jpg
SMA PGRI Tanjungpinang, masih 'tertolong' pada tahun ini.

BATAMTODAY.COM, Tanjungpinang - Sejumlah sekolah swasta di Kota Tanjungpinang terancam gulung tikar akibat tak kebagian siswa baru. Bahkan ada salah satu sekolah menengah swasta yang sengaja tidak membuka pendaftaran pada tahun ini karena tak kebagian siswa.

SMA Muhammadiyah Tanjungpinang, misalnya. SMA swasta yang cukup tua di Tanjungpinang itu terlihat lengang. Tahun ini, hanya enam orang yang mendaftar ke sekolah tersebut saat penerimaan siswa baru.

Seorang guru SMA Muhammadiyah Tanjungpinang mengaku miris melihat kondisi sekolah tersebut. Menurutnya, jumlah siswa di sekolah-sekolah swasta yang nyaris langka itu akibat begitu mudahnya masuk ke sekolah negeri, termasuk melalui "jalur belakang".

Kendati demikian, guru yang enggan menyebutkan namanya itu tak bisa menyalahkan Pemerintah Kota Tanjungpinang karena animo masyarakat untuk mengenyam pendidikan di sekolah negeri sangat besar.

"Segala macam cara dilakukan agar anak mereka bisa masuk ke sekolah negeri. Wali kota juga mau ngomong apa jika masyarakat tidak mau?" ujar guru tersebut kepada BATAMTODAY.COM, Senin (17/8/2015).

Nasib beberapa sekolah swasta lain pun sedang di ujung tanduk setelah SMK Indera Sakti yang gulung tikar sejak 2014 lalu. SMK Pariwisata Engku Kelana, termasuk yang terancam karena tidak ada murid.

Ketua Yayasan Engku Kelana, Juramadi Esram, mengakui bahwa memang sekolah swasta kalah pamor dengan sekolah negeri. Sehingga sekolah pihaknya memilih untuk tidak membuka pendaftaran pada penerimaan siswa baru tahun pelajaran 2015/2016.

Bahkan Juramadi mengatakan, sekolah akan menghabiskan siswa hingga kelulusan tahun ini saja. "Untuk tahun depan mungkin kami tutup. Untuk siswa yang ada mungkin akan kita rekomendasi untuk dipindahkan ke sekolah lain. Sekolah swasta di Tanjungpinang kalah pamor dengan sekolah negeri," ujar Juramadi.

Ketika ditanyakan tentang banyaknya 'siswa titipan' yang membuat anjloknya siswa ke sekolah swasta, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang ini enggan berkomentar. "Kalau masalah itu saya no komen," ujar Juramadi.

Sementara itu SMA PGRI yang dicanangkan akan mendapatkan 40 murid lewat promosi paket sekolah gratis dengan metode orang tua asuh yang dicanangkan oleh Ketua PGRI Kepri, HZ Dadang AG, pun tak mencapai target. Meskipun telah dicanangkan bersekolah gratis, sekolah itu hanya mampu menyerap 20-an siswa baru.

Menurut beberapa guru di SMA PGRI, hal ini memang dipengaruhi adanya "pemanjaan" dari pemerintah untuk masyarakat yang ingin anaknya bersekolah di sekolah negeri.

"Kan saling berhubungan masyarakat ini. Dapat masuk satu, yang satu lagi iri, minta masuk juga. Alhasil masuk semua. Susah jadinya. Kami kebagian gigit jari, guru terancam di-PHK," ujar seorang guru. (*)

Editor: Roelan