Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Hasma yang Sekolahkan 6 Anaknya hingga Menabung untuk Naik Haji dari Jualan Jepa
Oleh : Redaksi
Sabtu | 14-10-2017 | 18:02 WIB
penjual-serabi.gif Honda-Batam
Hasma (54 tahun) mampu menyekolahkan enam anaknya hanya dengan berjualan jepa dan sokkol lame, sejenis makanan tradisional mandar yang terbuat dari parutan ubi kayu. Bahkan dengan pendapatannya sebagai penjual jepa, Hasma mampu menyisihkan tabungan haji sejak belasan tahun lalu. Tahun depan Hasma rencannaya akan bernagkat haji setelah daftar tunggu lebih dari 10 tahun. (KOMPAS.Com)

BATAMTODAY.COM, Polewali Mandar - Jam baru menunjukkan pukul 04.30 Wita, Kamis (12/10/2017), namun Hasma (54) sudah sibuk bergelut melayani pelanggannya satu per satu.

Dengan lincah, kedua tangannya mengisi tungku tanah dengan parutan ubi, termasuk menaburi gula, kelapa dan bahan lainnya sambil melayani pelanggan yang kerap berjubel di tempatnya berjualan jepa dan sokkol lame, makanan khas Mandar yang terbuat dari parutan ubi kayu.

Hawa panas dari lima tungku dapur yang dinyalakan secara bersamaan untuk membuat jepa dan sokkol lame membuat Hasma kerap bercucuran keringat, tetapi dia tetap bersemangat.

Dalam sehari, ibu dari enam anak ini menghabiskan lebih dari 40 kilogram parutan ubi kayu untuk membuat jepa dan sokkol lame.

Kepada para pelanggannya, Hasma menawarkan jepa dalam tiga rasa, yakni asin, hambar dan manis dengan menggunakan gula aren.

Lahade, salah satu pelanggan Hasma, mengaku rutin membeli jepa dan sokkol lame setiap hari. Menurut dia, makanan khas Mandar buatan Hasma itu jauh lebih enak dibandingkan pedagang lainnya.

“Jepanya enak, saya sudah lama langganan. Saya sebetulnya bukan suku Mandar, tetapi saya senang makan jepa dan sokkol lame,” ungkap Lahade.

Kuliahkan 6 anak

Hasma menekuni profesi sebagai penjual jepa dan sokkol lame sejak suaminya meninggal dunia belasan tahun lalu. Saat itu, anak-anaknya masih kecil dan belum satu pun yang mandiri.

Karena kehilangan tulang punggung keluarga, Hasma banting tulang sendiri demi menghidupi enam anaknya.

Setiap hari, Hasma sudah bangun sekitar pukul 03.00 Wita untuk mengemas barang-barang jualannya. Hasma lalu mulai melayani pelanggannya di Pasar Wonomulyo sejak pukul 04.30 Wita dan baru berhenti menjelang siang hari, sekitar pukul 11.00 Wita, atau tergantung permintaan pelanggannya.

Ketika tiba di rumah pada pukul 13.00 Wita, dia sudah harus mulai lagi mempersiapkan bahan baku jepa dan sokkol lame pada pukul 15.00 Wita. Ubi kayu atau singkong tersebut dikupas dan dicuci bersih sebelum diparut. Karena anaknya sibuk sekolah dan kuliah, Hasma kerap mengerjakannya seorang diri hingga malam hari.

Hasma hanya butuh waktu beberapa jam tidur malam sebelum kembali bangun sekitar pukul 03.00 Wita. Dia berusaha tak terlambat bangun karena bisa ditinggalkan oleh mobil pelanggan yang setia mengantarkannya ke pasar tempat berjualan.

Selama sepekan, Hasma hanya berjualan dua kali sesuai dengan hari pasar di Pasar Wonomulyo, sedangkan empat hari lainnya, dia berjualan di Pasar Sentral Majene dan sejumlah pasar tradisional lainnya di Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Dia menjual jepa berukuran sebesar piring dengan harga Rp5.000 per 3 buah. Sedang sokkol lame yang dikukus di atas panci dijual seharga Rp5.000 per bungkus. Dalam sehari, Hasma mampu mendapatkan Rp 300.000.

Pendapatan yang lumayan itu sebagian digunakan Hasma untuk membiayai kebutuhan hidup rumah tangganya, termasuk membiayai pendidikan enam orang anaknya, bahkan ada yang sudah berkuliah.

Satu anak bungsunya kini masih duduk di SMP, 3 anak lainnya duduk di SMA, sedangkan dua anak lainnya yang sukses meraih beasiswa kini sedang menyelesaikan studinya di bangku kuliah dua perguruan tinggi di Majene dan Makassar.

“Sebagian pendapatan saya gunakan untuk biaya rumah tangga dan biaya sekolah enam anak saya. Selebihnya saya sisipkan untuk tabungan,” tutur Hasma.

Berangkat haji

Hasma juga menyisihkan sebagian pendapatannya untuk tabungan haji sejak lebih dari 10 tahun lalu. Rencananya, tahun depan, Hasma mendapat giliran untuk menuaikan ibadah haji di Tanah Suci setelah masuk daftar tunggu lebih dari 10 tahun.

Hasma mengaku bangga, dengan berjualan jepa dan sokkol lame keliling dari pasar ke pasar, dia tak perlu menjadi pengemis menadahkan tangan ke orang lain untuk menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya.

"Tuhan selalu punya rahasia dan cara menolong setiap hamba-Nya yang mau berusaha menolong dirinya sendiri," ungkap Hasma yang tidak fasih berbahasa Indonesia dengan baik ini.

Sumber: Kompas.com
Editor: Udin