Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kisah Sang Pembersih Darah Kasus Pembunuhan
Oleh : Redaksi
Jum'at | 23-09-2016 | 08:00 WIB
donovan_tavera_blood_cleanerbyalamy.jpg Honda-Batam

Inilah Donovan Tavera yang sudah tertarik pada darah saat dirinya berusia 12 tahun. (Foto: BBC)

APA yang terjadi dengan darah setelah sebuah pembunuhan terjadi? Pertanyaan itu menghantui saya selama bertahun-tahun, sampai saya menjawabnya sendiri.

 

Saya melihat mayat pertama kali saat berumur 12 tahun. Di awal pagi kami mendengar bahwa ada yang meninggal di jalanan di luar gedung apartemen kami. Kami pergi ke luar untuk melihat.

Jelas sekali terlihat ada tanda-tanda kekerasan fisik. Mayat pria itu tanpa baju. Saya terkejut dengan banyaknya darah yang menggenang di jalanan. Betapa pun, saya merasa tidak takut, saya hanya sangat penasaran.

Diserang rasa penasaran, Tavera akhirnya pergi ke perpustakaan dan membaca buku yang mengulas tentang proses kematian dan tubuh orang yang meninggal.

Selain kerumunan warga yang tinggal di dekat lokasi kejadian, di sana juga ada para anggota polisi dan penyelidik. Saya terus menunggu orang yang akan membersihkan darah, tapi tidak ada seorang pun datang ke tempat kejadian perkara.

Lumuran darah bahkan mengalir hingga ke bangunan apartemen kami dan ibu saya terpaksa membersihkannya dengan air.
Saya bertanya: "Siapa yang membersihkan darah setelah pembunuhan itu?” Saat itu saya banyak bertanya pada ibu saya.

Ketika ayah pulang kerja, saya juga menanyakan beberapa hal terkait pembunuhan ini. "Apa yang terjadi dengan darah ini setelah pembunuhan ? Bagaimana cara membersihkannya?"

Pertanyaan ini berulang kali saya tanyakan kepada ayah saya, hingga membuatnya kesal dan membentak. “Berhentilah membicarakan hal ini. Cukup!" teriaknya.

Saya memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Saya pergi ke perpustakaan dan membaca buku tentang kedokteran, namun itu masih terlalu umum.

Hingga akhirnya saya menemukan buku tentang kedokteran forensik. Saya menemukan ulasan tentang proses kematian dan apa yang terjadi dengan tubuh orang yang meninggal. Saya belajar banyak hal.

Sebuah pembunuhan sangat berbeda dengan sebuah kecelakaan: dalam kasus pembunuhan, banyak darah tertumpah. Dan darah tersebut bisa membawa penyakit.

Saya kira sesudah mayat diambil dari jalanan, pastilah ada orang profesional yang membersihkan lumuran darah.

Saat berusia 17 tahun, saya mulai melakukan percobaan sendiri. Saya memutuskan untuk pergi ke penjagalan hewan untuk membeli hati dan tulang sapi, lalu saya mempelajari bagaimana cara membersihkan darah.

Ini merupakan awal saat saya menekuni profesi sebagai pembersih forensik.

Selama bertahun-tahun saya berhasil menemukan lebih dari 300 macam cara untuk membersihkan darah. Beberapa cara di antaranya terus mengalami penyempurnaan dari tahun ke tahun. Sementara cara-cara lainnya tetap masih seperti saat pertama kali saya menggunakannya.

Banyak cara yang digunakan, tergantung dari apa yang kita bersihkan. Apakah darah itu melumuri karpet mobil, atau menempel pada barang pribadi seperti jam tangan atau cincin. Hal itu juga tergantung pada bagaimana dan kapan seseorang terbunuh.

Bisa saja orang tergolek tewas dalam lingkungan yang lembab di kamar mandi rumahnya selama seminggu. Situasi lainnya seperti, seorang pria bunuh diri dengan cara gantung diri, Anda perlu memperhatikan cairan tubuh lain seperti air mani dan kotorannya.

Sebelum saya datang, saya akan bertanya apa yang terjadi, dan di mana mayat itu. Saya juga perlu tahu apakah korban tewas itu menderita penyakit, dan apakah ada kemungkinan kontaminasi. Dengan itu saya bisa melakukan perencanaan.

Saya adalah orang terakhir yang berkunjung ke tempat kejadian perkara. Saya datang ke tempat terjadinya pembunuhan setelah polisi meninggalkan lokasi. Saya juga orang terakhir yang berkaitan dengan apa yang terjadi. Sering kali para anggota keluarga korban memperlakukan saya hampir sebagai seorang terapis.

Pada awalnya hal ini sangat berpengaruh pada diri saya secara pribadi, namun kini saya bisa menyimak mereka dengan tenang, dan kemudian menjalankan tugas saya.

Saya biasanya bekerja sambil mendengarkan musik dan ini dapat membantu saya konsentrasi dalam bertugas.

Saya selalu mendengarkan tiga lagu yang sama, Tristan und Isolde ciptaan Wagner, kemudian 666 Number of The Beast dari Iron Maiden dan Paranoid ciptaan Black Sabbath. Musik opera menjadi pilihan untuk bersantai dan membantu saya berkonsentrasi jelang persiapan kerja. Namun, saat telah berganti seragam dan mulai bekerja, saya ingin mendengarkan lagu heavy metal.

Saya mulai bekerja jika sudah ada pernyataan resmi dari pihak berwenang yang mengijinkan orang di luar tim penyelidikan polisi untuk memasuki lokasi kejadian. Tanpa dokumen resmi ini, saya tidak akan melakukannya.

Beberapa kali saya mendapat tawaran untuk melakukan pekerjaan ini, namun mereka tidak mempunyai dokumen-dokumen resmi ini. Dan ketika saya menanyakannya dokumen itu, mereka malah menawarkan saya uang, terkadang sangat besar jumlahnya. Ketika saya mengatakan kepada mereka bahwa saya tidak bisa bekerja tanpa otorisasi yang seharusnya, mereka segera menutup telepon. Mereka mungkin kelompok penjahat, atau mungkin itu sekadar lelucon, saya tidak tahu.

Sumber: BBC Indonesia
Editor: Dardani