Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Pemerintah Indonesia Protes Keras China soal Arogansinya di Perairan Natuna
Oleh : Irawan
Senin | 21-03-2016 | 18:32 WIB
Menlu-RI-Retno.jpg Honda-Batam
Menteri Luar Negeri Retno P Marsudi (Foto : Liputan6.com)

BATAMTODAY.COM, Jakarta-Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, Retno Marsudi menyampaikan protes kerasnya terhadap Pemerintah China, atas sikap arogansi coast guard China, di perairan Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu, 19 Maret 2016 lalu.


Protes tersebut disampaikan Menlu Retno terhadap Kuasa Usaha Sementara Kedubes China, Sun Weide, karena Duta Besar China untuk Indonesia saat ini sedang berada di Beijing.

Dalam pertemuannya dengan Sun Weide, Menlu Marsudi menyampaikan protes terkait pelanggaran oleh coast guard China terhadap hak berdaulat dan yurisdiksi Indonesia di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan laut kontingen.

Selain itu, adanya pelanggaran yang dilakukan oleh pengawas perairan China terhadap penegakan hukum yang dilakukan oleh aparat Indonesia, dan pelanggaran terhadap kedaulatan laut teritorial Indonesia.

"Kami telah meminta klarifikasi kepada pemerintah China terhadap kejadian ini. Kami juga mengharapkan adanya hubungan bernegara yang baik serta prinsip hukum internasional yang harus dihormati oleh pihak China. Saya juga ingin menekankan bahwa Indonesia bukan merupakan negara claimant state di dalam Laut China Selatan," kata Menlu Marsudi, dalam keterangan persnya di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (21/3/2016).

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyampaikan, KP Hiu 11 melakukan upaya penangkapan KM Kway Fey 10078, sebuah kapal pelaku penangkapan ikan ilegal asal China, di Perairan Natuna, pada Sabtu (19/3/2016). 

Proses penangkapan tidak berjalan mulus, lantaran ada campur tangan dari kapal coastguard  China, yang secara sengaja menabrak KM Kway Fey 10078.  Hal itu diduga untuk mempersulit KP Hiu 11 menarik masuk KM Kway Fey 10078. 

Susi menjelaskan kronologis proses penangkapan Kway Fey 10078 tersebut kepada media, pada Minggu (20/3/2016). Kapal tersebut terdeteksi sebagai target operasi (TO) pada hari Sabtu (19/3/2016), pukul 14.15 WIB, dengan posisi kapal di wilayah Indonesia.

"TO kemudian dikejar dan diberhentikan, namun kapal tidak mau berhenti," kata Susi. 

Pihak kapal pengawas lalu memberikan tembakan peringatan. Namun, kapal tersebut tetap berusaha melarikan diri dengan zig-zag, sehingga KP Hiu mendekat dan tidak bisa menghindari tabrakan. 

"Tiga orang personel KP Hiu 11 melompat ke kapal tangkapan dan berhasil melumpuhkan delapan ABK kapal tangkapan, yang akhirnya dipindahkan ke KP Hiu 11. Sebuah tindakan yang sangat berani dan kita apresiasi," lanjut Susi. 

Setelah pemindahan delapan ABK ke KP Hiu 11, selanjutnya mereka coba membawa atau menarik KM Kway Fey 10078. Namun, lanjut Susi, dalam perjalanan pengawasan, tiba-tiba muncul satu kapal coastguard China mengejar KP Hiu 11. 

"KP Hiu 11 mencoba menghubungi lewat radio dan tidak ada jawaban, kemudian KP Hiu 11 menghubungi Lanal untuk memberitahukan perihal kejadian tersebut," kata Susi. 

Sengaja tabrak

Selanjutnya, sebut dia, kapal coastguard China dengan kecepatan 25 knots mendekati KP Hiu 11 dan tangkapannya yakni KM Kway Fey 10078. 

Setelah mendekat, kapal China menyoroti dengan lampu sorot kemudian menabrak kapal tangkapan. 

"Setelah kapal tangkapan berhenti, dan melihat ada tiga orang anggota KP Hiu 11, mereka pun tidak jadi naik (ke atas), namun tetap mengawasi," ungkap Susi. 

Lantaran kapal tangkapan rusak akibat ditabrak kapal coastguardChina, sehingga tiga personel KP Hiu 11 memutuskan untuk kembali ke kapal KP Hiu 11, dan meninggalkan kapal tangkapannya. 

"Jadi kapal ikan China itu ditabrak oleh kapal coastguard-nya sendiri," ucap Susi. 

Kapal coastguard China kemudian merapat ke kapal tangkapan pada Sabtu (20/3/2016) pukul 01.45 WIB.  KP Hiu 11 sendiri meninggalkan kapal tangkapan tersebut untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, karena pada saat yang sama muncul kapal coastguard China kedua, yang jauh lebih besar daripada kapal yang pertama. 

"Jadi kejadian nabraknya itu, waktu KM Kway Fey 10078 mau dibawa ke Natuna. Ketika mau masuk territorial, ditabrak oleh kapal coastguard China," kata Susi. 

Dari proses penangkapan yang panjang itu, untuk sementara ini baru diamankan delapan ABK KM Kway Fey 10078, dan diarahkan ke Pulau Tiga Natuna untuk diproses lebih lanjut. Sementara barang bukti, yakni KM Kway Fey 10078 sendiri sudah dibawa oleh kapal coastguard China.

Editor : Surya