Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Episode Dagelan Menteri
Oleh : Opini
Jum'at | 11-03-2016 | 11:33 WIB

Oleh: Amril Jambak*

MENGUTIP dari id.wikipedia.org, Dagelan (Jawa) merupakan lawak atau sebuah adegan yang menimbulkan kelucuan. Dalam bahasa Melayu disebut juga alan-alan. Sementara dalam dialek Jakarta disebut bebodoran. 

Dagelan termasuk dalam salah satu seni rakyat yang sifatnya spontan. Pementasan seni ini tidak terikat pada naskah atau teks yang memberi alur cerita. Spontanitas ini merupakan improvisasi percakapan yang dilakukan oleh pemain. Dagelan didasari sebuah lakon singkat yang kemudian dikembangkan sendiri oleh pemainnya ketika pementasan dagelan berlangsung. Kelucuan diusahakan dari gerak-gerik, cara bicara, dan isi pembicaraan pemain. Sifat dagelan adalah parodi, maka efek realistis dihindari.

Peran perempuan sering dimainkan oleh laki-laki.Dalam beberapa pementasan drama panjang, dagelan hadir sebagai selingan untuk mencairkan suasana. Misalnya pementasan drama terdiri dari dua babak, maka dalam pergantian babak tersebut dimainkan dagelan. Akan tetapi, ada pula pertunjukan khusus dagelan. Pertunjukan dagelan tunggal ini bisa selama 4-5 jam. Dagelan tunggal ini terdiri hanya dari satu babak saja.

Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali dilanda kegaduhan untuk kesekian kalinya. Presiden pun murka dan berencana memanggil dua menteri yang berseteru secara terbuka di ruang publik, bahkan di media sosial Twitter.

Presiden Jokowi dan pihak Istana hingga kini belum menyebut identitas dua menteri yang terlibat perseteruan di ruang publik. Yang pasti pada 29 Februari lalu, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Republik Indonesia Rizal Ramli melalui akun Twitter-nya memposting sebuah meme.

Dalam meme yang diposting tersebut ada gambar wajah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said. Di samping gambar ada kutipan,"Tidak usah berpolemik. Yang pura-pura berjuang untuk rakyat, yang menipu, yang suka mengklaim paling tahu, yang mau coba mengganti investor Masela berhentilah membohongi rakyat.  Karena suatu saat akan terbongkar niat busukmu," Sudirman Said.

Rizal Ramli lewat akun Twitternya @RamliRizal, pun mengomentari 'meme' yang dia posting sendiri. "Walah .. Walah .. Kok sibuk analisa kelakuan sendiri.. Lucu deh ..," tulis dia seperti dikutip detikcom, Kamis (3/3/2016). 

Secara bersamaan memang di dunia nyata, Rizal Ramli dan Sudirman Said tengah berbeda pendapat soal rencana pengembangan Blok Masela. Kementerian ESDM yang dipimpin Sudirman Said tengah melakukan analisis terkait pengembangan wilayah di Provinsi Maluku terutama Maluku Bagian Selatan, sehingga hasil dari Blok Masela ini dapat membawa kesejahteraan bagi Indonesia terutama di Provinsi Maluku.

Analisis juga terkait besarnya investasi yang dibutuhkan bila Blok Masela di onshore (darat) maupun di offshore (laut). Sudirman meminta semua pihak tidak berpolemik terkait rencana pengembangan Blok Masela sebelum hasil kajian Kementerian ESDM selesai.

Dia memastikan bahwa Presiden akan mengambil keputusan yang memberi manfaat maksimal bagi masyarakat Maluku, Indonesia dan banyak pihak. Rupanya kutipan Menteri Sudirman ini mengundang komentar Menteri Rizal Ramli di media sosial.

Ini bukan pertama kalinya Rizal Ramli terlibat perseteruan dengan anggota kabinet di ruang publik. Pada Agustus lalu, saat baru sepekan dilantik sebagai Menko Kemaritiman, Rizal Ramli mengkritik rencana pembelian pesawat Airbus 350 oleh Garuda Indonesia.

Rizal khawatir Garuda bangkrut karena memborong 90 pesawat senilai Rp 266 triliun dari perusahaan asal Prancis itu. Kritik Rizal Ramli ini mengarah ke Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno yang membawahi PT Garuda Indonesia. Wakil Presiden Jusuf Kalla menengahi perseteruan antara Rizal Ramli dan Menteri Rini.

Sebulan kemudian, tepatnya pada September 2015 Rizal Ramli kembali terlibat perseteruan dengan sesama anggota kabinet. Dia mengkritik program Kementerian ESDM di bawah Menteri Sudirman Said soal pengadaan pembangkit listrik 35 ribu Megawatt. Menurut dia, pembangunan proyek listrik lebih realistis dilaksanakan jika target dipangkas menjadi 16 ribu MW untuk lima tahun ke depan.

Kritik Rizal Ramli dijawab keras oleh Presiden Jokowi. Menurut Presiden, tugas seorang menteri koordinator adalah mencari solusi bukan mengumbar komentar di ruang publik. 

Pada Oktober 2015, Rizal Ramli kembali terlibat perseteruan dengan Menteri ESDM Sudirman Said soal rencana perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia. Perseteruan antar dua pembantu Presiden Jokowi itu bisa diredakan untuk beberapa waktu. Benarkah kicauan Rizal Ramli ini yang bikin kabinet Jokowi gaduh?

Bagi penulis mungkin publik sekalipun, kegaduhan menteri kabinet Jokowi ini bagaikan dagelan saja. Bak ibarat film, untuk menarik simpati penonton pastilah ada sesi dagelan yang dipertontonkan ke publik. Kalau bukan adanya itu, film yang ditampilkan tidaklah seru, paling tidak jadi pengingat penonton akan film yang diproduksi. Mungkin ini sah-sah saja dilakukan dalam film. 

Tapi dalam tatanan pemerintahan, alangkah tidak elok jika publik mengetahui kegaduhan menteri ini. Hal ini akan memunculkan kesan amat buruk di pemerintahan yang dipimpin Jokowi. 

Terkait ini sudah sepantasnya Jokowi memberi ‘pelajaran’ kepada para pembantunya agar dalam menyelesaikan persoalan kepemerintahan tidak perlu diungkap ke publik. Nah, jika sudah tuntas  barulah disampaikan ke publik.

Dalam sisi kegaduhan menteri ini, penulis melihat ada pembiaran oleh Presiden Jokowi, yang seharusnya menindak menteri, tapi malahan kejadian ini berulang-ulang. Tentunya dalam masalah ini, di sinilah kepemimpinan Jokowi diuji. Janganlah sampai dagelan menteri menjadi negeri dagelan. Terlalu......!  

*) Penulis adalah peneliti Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI).