Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Membongkar Peredaran Beras Plastik di Batam

Sudah Melapor ke BPOM, Malah Di-PHP
Oleh : CR12
Sabtu | 24-10-2015 | 09:44 WIB
2015-10-24 09.51.07.jpg Honda-Batam
Inilah sekarung beras yang diduga beras plastik dan telah beredar di Batam. (Foto: Harun Al Rasyid)

BATAMTODAY.COM, Batam - Setelah mengalami dampak yang dirasakan setelah mengosumsi beras sintesis itu dan khawatir akan dampaknya pada kesehatan, Heriyanti (35), warga Tembesi Sagulung Batam yang menjadi korban peredaran beras plastik itu, diantarkan suaminya, Yoso, melaporkan masalah ini ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Batam. Tapi hanya di-PHP (Pemberi Harapan Palsu).

Hal itu mereka lakukan pada awal bulan Agustus 2015 lalu. Tujuannya adalah ingin mendapatkan penjelasan dari BPOM Batam mengenai kelayakan mengkonsumsi beras tersebut. Serta, apa dampaknya bagi kesehatan, karena Heriyati dan keluarganya telah mengkonsumsi beras plastik itu selama 2 hari. 

Jika beras tersebut layak dalam artian bebas dari pengaruh zat kimia maupun zat berbahaya lainya, maka akan dikonsumsikannya. Namun, akan jadi pertanyaan besar bilamana dinyatakan tak layak dikonsumsi. 

"Kami ke BPOM itu sekitar tanggal 5 Agustus 2015, dua hari setelah beli beras itu. Saya minta ke BPOM untuk dicek, apa beras ini layak dikonsumsi apa tidak. Saya tidak menanyakan apa ini beras plastik apa bukan. Kalau emang layak dikonsumsi, maka saya konsumsi, kalau memang tidak layak dikonsumi, ini berasnya kenapa, apakah beras plastik, atau beras semacam formalin atau mungkin dikasi zat kimia biar nampak putih" tutur Yoso kepada BATAMTODAY.COM. 

Sayangnya, hingga hari ini belum ada respon dan penjelasan apa pun dari pihak BPOM. Beberapakali Yoso maupun istrinya menghubungi BPOM Batam, namun tak kunjung mendapatkan hasil.

Tampak sekali, tambah Yoso, pihak BPOM Batam terbelit-belit dalam menangani laporan pengaduan ini. Padahal, hal ini berkaitan dengan nasib seluruh warga Batam. Bila mana ditemukannya zat kimia ataupun beras plastik, ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat. 

"Sampai sekarang mereka belum kasih tahu hasilnya. Katanya alat tes beras itu hanya ada di Jakarta," ujarnya. 

"Kami mau tahu arahan mereka, tapi pas saya telephone tidak diangkat. Mereka (BPOM, red) ngarahin ke lapor Disperindag dan Dinas Pertanian," tambah Yoso. 


Editor: Dardani