Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Dorong Pemerintah Optimalkan Peran Pemuda
Oleh : Redaksi
Kamis | 16-10-2014 | 08:04 WIB

Oleh : Herni Susanti*)

DINAMIKA kehidupan suatu bangsa yang terjadi merupakan suatu keharusan untuk menuju kedewasaan bangsa tersebut. Secara bijaksana dalam dinamika ini sering terjadi perubahan yang seringkali menimbulkan kecemasan bagi masyarakat suatu bangsa. Dengan usia bangsa Indonesia yang ke 69, banyak mengalami perubahan baik dibidang sosial, politik, ekonomi dan kemasyarakatan. Perubahan yang terjadi tersebut, patut kita cermati dan kita sikapi secara bijaksana agar tidak mengganggu stabilitas kehidupan masyarakat. 

Sensus BPS menyebutkan ada 1.340 suku bangsa, 564 bahasa daerah, beragam agama, serta adat istiadat, yang merupakan anugerah bagi Indonesia. Tantangan berbangsa dan bernegara tidak hanya menghadapi masalah yang berakar pada karakter bangsa, melainkan proses pembangunan harus berjalan sesuai cita-cita para pendiri bangsa Indonesia. 

Di masa perjuangan, peran pemuda memiliki pengaruh sangat kuat untuk pergerakan. Tergambar dalam ungkapan Presiden Soekarno, "Berikan kepada aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya dan beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncang dunia".

Peran Insan Akademis
Keadaan kondusif sebagai keharmonisan sosial bagi kehidupan berbangsa dapat dimulai di lingkungan masyarakat, insan akademis yang  ada dilingkungan kampus, RT/RW, kelurahan/desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan nasional. Insan akademis sebagai bagian penting untuk perwujudan proses pembentukan generasi muda yang diandalkan dan menjadi kader-kader pembangunan bangsa di masa akan datang. Pertimbangan sinergitas akan program-program bersifat pengabdian pada masyarakat yang didesain oleh insan akademis bisa disinergikan dalam pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial. 

Mendorong pemerintah untuk mengoptimalkan peran pemuda dan mahasiswa dalam pembangunan nasional, dengan melakukan sosialisasi mendorong generasi muda, pelajar dan mahasiswa, untuk mengambil berpartisipasi dalam mewujudkan lingkungan yang harmonis, dengan cara meningkatkan kearifan lokal. Mendorong perguruan tinggi untuk meningkatkan pembelajaran mengenai karakter bangsa yang luhur sesuai nilai-nilai Pancasila bagi para mahasiswa. Eksistensi pemuda sebagai insan akademis besar sekali pengaruhnya terhadap pembangunan. Pembangunan bisa berjalan sesuai rencana, termasuk dibidang kesejahteraan sosial jika situasi kondusif. 

Insan Akademis, pendidik dan peniliti, menyerahkan jiwa dan kemampuan bagi upaya-upaya memperbaiki kehidupan bersama, mewujudkan kesejahteraan rakyat, mengembangkan kebudayaan, dan peradaban yang manusiawi. Kepada setiap pendidik dan peniliti, dipercayakan tugas untuk menyumbangkan keahlianya melaui kerja pendidikan dan akademik dalam bidang sains, teknologi, ilmu-ilmu sosial, dan humaniora, yang menjadi bagian integral proses kehidupan berbangsa dan bernegara ke arah kondisi yang berbudaya dan beradab. 

Pada momen kehidupan Ibu Pertiwi yang memprihatinkan ini, dalam pilihan moral yang jelas menuntut koreksi total atas terjadinya situasi yang buruk dalam kehidupan bangsa Indonesia. Untuk itu, "Di sinilah kami berdiri, kami lahir dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat".
 
Keikutsertaan Pemuda 
Para pemuda dihimpun dalam Karang Taruna, Siaga Bencana, Pelopor Perdamaian, dan lainnya. Keikutsertaan generasi muda sebagai relawan diharapkan menumbuh kembangkan nilai-nilai keharmonisan sosial. Peran pemuda dalam menanggapi permasalahan sosial di Indonesia, yakni dengan cara meningkatkan intelektualitas, mewujudkan lingkungan yang harmonis, serta mewujudkan karakter luhur berdasarkan prinsip-prinsip Pancasila. 

Pentingnya sinergitas dan partisipasi generasi muda bersama masyarakat dalam mendukung program pembangunan yang direncanakan oleh pemerintah, di antaranya terkait kesejahteraan masyarakat. Maka dari itu tujuan diadakan sosialisasi empat pilar kebangsaan tersebut guna memberikan pemahaman dikalangan generasi pemuda. Hal ini dimungkinkan karen telah memudarnya wawasan kebangsaan, untuk itu melalui sosialisasi diharapkan akan membangkitkan kembali semangat dan kepedulian terhadap nilai-nilai kebangsaan daerah. 

Dalam memberikan pembinaan secara terpadu yang dilakukan oleh pemerintah bersama dengan masyarakat, untuk terciptanya iklim yang kondusif dan memungkinkan adanya perubahan sikap agar menerima kemajemukan masyarakat dalam wadah negara kesatuan republik Indonesia. Dibutuhkan reaktulisasi nilai Pancasila sebagai pedoman untuk menentukan sikap bangsa untuk mengatasi masalah. 

Tanpa rektualisasi, bangsa ini akan kehilangan tata nilai luhur atau noble values. "Pemimpin masa depan, adalah lahir dari generasi muda yang tidak hanya memiliki intelektualitas tinggi namun juga karakter luhur berdasarkan prinsip-prinsip Pancasila". "Pemuda berkualitas dan bermental baja yang mengisi kemerdekaan dan memperjuangkan cita-cita luhur bangsa".

*) Penulis adalah pemerhati masalah bangsa dan demokrasi tinggal di Jakarta.