Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Rizal Ramli Sebut SBY Kembangkan KKN Percaloan
Oleh : Surya
Rabu | 20-11-2013 | 11:43 WIB

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Mantan Menko Perekonomian di era KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Rizal Ramli menilai berbeda model atau pola kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) yang dilakukan oleh Presiden Soeharto dengan yang dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kalau Soeharto menambah nilai positif dengan membuka lapangan kerja, tapi sebaliknya SBY sama sekali tanpa nilai tambah

.
"Ada perbedaan fundamental pola KKn yang dilakukan oleh Soeharto dan SBY. Kalau Soeharto dengan memberi berbagai fasilitas, proteksi, tarif, kredit, dan membangun berbagai jenis industri sekaligus memilki nilai tambah dengan membuka lapangan kerja," tegas Rizal Ramli pada wartawan di  Jakarta kemarin. 

Kroni Soeharto tersebut membangun berbagai jenis industri seperti otomotif, mie instan, tepung, perkebunan, pertambangan dan lainnya, meski tidak sehebat Jepang. Tapi, Indoensia yang menjadi pasar otomotif terbesar dunia ini sampai hari ini belum ada kemauan untuk membangun industri yang mandiri.

Sementara itu yang dilakukan oleh SBY menurut Rizal, adalah dengan menggunakan pola percaloan. 
"Tak ada nilai tambah perekonomian untuk rakyat dan negara. Karena itu muncul nama-nama seperti Sengman, Bunda Puteri, dan lain-lain yang tidak jelas, dan mereka itu menikmati uang negara," tambah Rizal.

Menurut Rizal, ada tiga cara mudah untuk mendapatkan uang politik yang besar penguasa negara ini. Yaitu, dari impor pangan. Kedua, pengelolaan minyak dan gas (perdagangan, trading, lisensi-perizinan, distribusi dan lain-lain. Dan ketiga, melalui perampokan bank. Seperti terjadinya skandal Bank Century, Bank Bali dan sebagainya.

Dengan demikian kata Rizal, pemerintahan SBY ini tidak beres dalam menjalanlkan pemerintahannya dengan menerapkan pola KKN tanpa nilai tambah. 

"Semoga 2014 menghasilkan pemimpin yang jauh lebih baik, mampu membangkitkan perekonomian negara, dan membangun industri yang mandiri," pungkasnya.

Editor : Surya