Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Gejala Autisma Dapat Dideteksi Sejak Bayi
Oleh : Redaksi
Kamis | 07-11-2013 | 10:41 WIB

BATAMTODAY.COM, Atlanta - Para pakar sepakat, gejala autis atau autisma pada anak baru bisa dilihat ketika anak berusia tiga tahun. Namun, penelitian yang dilakukan para peneliti di AS menunjukkan, gejala autisma itu bahkan sudah bisa diidentifikasi pada bayi berusia dua bulan. 


Para peneliti menganalisis bagaimana bayi melihat wajah-wajah ketika si jabang bayi lahir hingga berusia tiga tahun. Anak-anak yang kemudian didiagnosis dengan autisma telah menunjukkan minimnya kontak mata -ciri autisma- dalam beberapa bulan pertama kehidupan si bayi.

Temuan yang dilaporkan dalam jurnal Nature itu membangkitkan harapan untuk melakukan intervensi awal guna mengatasi gejala autisma, kata seorang pakar di Inggris.

Peneliti yang dipimpin oleh Emory University School of Medicine di Atlanta menggunakan teknologi eye-tracking (pelacak gerakan mata) untuk mengukur cara bayi melihat dan merespons petunjuk sosial.

Mereka menemukan, bayi yang didiagnosis dengan autisma telah menunjukkan penurunan dalam memperhatikan mata orang lain dari usia dua bulan dan seterusnya, saat menonton video interaksi alami manusia.

"Ini memberitahu kita untuk pertama kalinya bahwa memungkinkan untuk mendeteksi tanda-tanda autisma pada bulan-bulan pertama kehidupan. Ini adalah tanda-tanda awal autisma yang pernah kita amati," kata Dr Warren Jones, Peneliti utama, seperti dilansir BBC News.

Studi tersebut melibatkan 59 bayi yang memiliki risiko tinggi autisma karena mereka memiliki saudara kandung dengan gejala itu, dan 51 bayi berisiko rendah.

Dr Jones dan koleganya, Dr Ami Klin, mengikuti perkembangan para bayi itu sampai berusia tiga tahun, ketika anak-anak ditegakkan secara resmi memiliki gejala autisma .

Hasilnya, 13 anak-anak didiagnosis dengan gangguan spektrum autisma -berbagai gangguan yang meliputi autisma dan sindrom Asperger. Sebagian besar atau 11 orang merupakan anak laki-laki dan dua anak perempuan.

Para peneliti kemudian kembali untuk melihat data pelacak mata. Apa yang mereka temukan kemudian sungguh mengejutkan.

"Pada bayi dengan autisma, kontak mata sudah mengalami penurunan sudah dalam enam bulan pertama mereka lahir," kata Dr Jones.

Kendati demikian, ini hanya bisa dilihat dengan teknologi canggih dan tidak akan terlihat oleh orang tua.

"Ini bukan sesuatu yang sama sekali dapat dilihat orang tua. Jika orang tua prihatin, mereka harus berbicara dengan dokter anak mereka," katanya.

Sementara Dr Deborah Riby, dari departemen psikologi di Durham University, mengatakan, penelitian ini memberikan wawasan waktu perhatian sosial atipikal pada anak-anak yang mungkin terus mengembangkan autisma.

"Ini tanda awal sangat penting bagi kita untuk mengidentifikasi -sebelumnya kita dapat mendiagnosa anak yang memiliki salah satu dari gangguan ini -seperti autisma- sebelumnya kami dapat memberikan intervensi dan pengembangan (diri)," katanya.

Caroline Hattersley, Kepala Informasi Saran dan Advokasi di National Autistic Society, mengatakan, penelitian tersebut didasarkan pada sampel yang sangat kecil dan perlu direplikasi dalam skala yang jauh lebih besar sebelum dapat disimpulkan secara konkret.

"Autisma adalah kondisi yang sangat kompleks," jelasnya.

"Tidak ada dua orang dengan autisma adalah sama, sehingga pendekatan holistik untuk diagnosis diperlukan untuk memperhitungkan semua aspek perilaku individu. Sebuah pendekatan yang lebih komprehensif yang memungkinkan semua dukungan seseorang, perlu diidentifikasi."

"Ini penting bahwa setiap orang dengan autisme dapat mengakses diagnosis, karena dapat menjadi kunci untuk membuka dukungan yang tepat yang dapat memungkinkan orang dengan kondisi autisma untuk mencapai potensi penuh mereka," jelas Caroline. (*)

Editor: Dodo