Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Bisnis Harus Bersiap Hadapi Perubahan Iklim
Oleh : Dodo
Rabu | 26-06-2013 | 09:26 WIB

BATAM - Perubahan iklim, kekeringan, kerusakan keanekaragaman hayati, terus berdampak pada bisnis global. Hal ini terungkap dalam laporan terbaru berjudul “GEO-5 for Business: Impacts of a Changing Environment on the Corporate Sector” yang dirilis pekan lalu dan disusun oleh Program Lingkungan PBB (UNEP) dan SustainAbility and Green Light Group.

Menurut UNEP, beradaptasi sejak dini terhadap perubahan lingkungan akan membuka peluang bagi penerapan ekonomi hijau yang menguntungkan perusahaan. Perubahan lingkungan dunia akan terus menambah biaya operasi perusahaan, mengganggu pemasaran produk, ketersediaan bahan baku dan bahkan bisa merusak reputasi bisnis perusahaan.

Sehingga masa depan sektor swasta akan bergantung pada kemampuan mereka beradaptasi di kondisi lingkungan yang terus berubah akibat perubahan iklim, cuaca ekstrem, kekeringan, polusi berbahaya dari bahan-bahan kimia dan masalah-masalah lingkungan lainnya.

Namun semua tantangan tersebut membuka peluang bagi perusahaan untuk mengelola risiko dengan baik dengan bantuan teknologi, investasi dan jasa-jasa yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Melalui analisis mendetil di berbagai industri: bangunan, kimia, pertambangan, pangan dan industri-industri yang lain, GEO-5 for Business memberikan gambaran ancaman dan potensi untuk beralih ke sistem ekonomi yang berkelanjutan yang memiliki dampak positif dalam jangka panjang.

Laporan ini juga menunjukkan, frekuensi cuaca ekstrem – akibat perubahan iklim – terus meningkat menimbulkan kerugian besar di berbagai sektor. Banjir besar di Australia pada 2010-11, misalnya, membuat perusahaan reasuransi, Munich Re, menanggung klaim sebesar lebih dari $350 juta mengurangi 38% laba tiga bulanan perusahaan. Pada periode yang sama di Australia, grup perusahaan pertambangan Rio Tinto juga merugi hingga US$245 juta akibat cuaca ekstrem.

Peningkatan temperatur juga akan mengganggu bisnis pariwisata. Jika suhu pada musim dingin naik antara 2,5° hingga 4°F, separuh dari resort ski di bagian utara Amerika Serikat akan terganggu operasinya dalam 30 tahun ke depan.

Penelitian UNEP mengungkapkan lebih dari 80 persen modal yang diperlukan untuk mengatasi perubahan iklim bisa datang dari sektor swasta. Proses ini membuka peluang bisnis bagi terwujudnya ekonomi hijau di sektor keuangan, teknologi efisiensi energi, transportasi yang berkelanjutan dan infrastruktur rendah karbon yang lain.

Kota-kota dunia juga memerlukan penambahan infrastruktur hingga 60 persen guna memenuhi kebutuhan populasi perkotaan dunia pada 2050. Hal ini membuka peluang bagi perusahaan untuk menciptakan infrastruktur yang lebih hijau dan bangunan yang lebih ramah lingkungan. Setiap hari terdapat lebih dari 139,335 meter persegi bangunan yang memeroleh sertifikasi hijau.

Kondisi kekurangan air tetap menjadi tantangan terbesar bagi industri yang diulas dalam GEO-5 for Business. Perusahaan pariwisata, kimia dan sektor lain bisa mengalami penambahan biaya operasional. Di Afrika Selatan, tambang platinum di Sungai Olifants akan menanggung biaya air 10 kali lipat pada 2020 dibanding biaya mereka saat ini. Kompetisi dengan komunitas lokal dalam memerebutkan air atau sumber daya alam yang lain inilah yang bisa merusak reputasi perusahaan jika tidak dikelola dengan baik.

Sumber: hijauku.com