Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Menguak Bisnis Sampah Elektronik di Asia Pasifik
Oleh : Dodo
Sabtu | 15-06-2013 | 10:51 WIB
Limbah-4.gif Honda-Batam
Kepala Bapedal Batam, Dendi Purnomo saat meninjau lokasi penimbunan limbah elektronik di Masyeba Kirana beberapa waktu lalu.

BATAM - Tingkat konsumsi produk-produk elektronik yang tinggi – dipicu oleh industrialisasi dan perkembangan teknologi – menciptakan akumulasi limbah elektronik dan peralatan listrik di Asia Pasifik yang jumlahnya terus meningkat. Kondisi ini menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan.

Kabar baiknya, negara-negara di Asia Pasifik terus berupaya meningkatkan standar pengelolaan lingkungan hidup mereka dengan cara mengamanatkan daur ulang sampah elektronik. Masyarakat dan industri juga semakin menyadari nilai ekonomi dari sampah elektronik.

Hasilnya adalah sebuah industri daur ulang dengan nilai mencapai $1,85 miliar pada 2012 dan diperkirakan akan melonjak menjadi $4,01 miliar pada 2017. Hal ini terungkap dari hasil analisis Frost & Sullivan berjudul Strategic Analysis of the Asia-Pacific E-Waste Recycling Market yang dirilis Kamis (13/6/2013) lalu.

Analisis ini menyebutkan, sebagian besar konsumen di Asia Pasifik hanya tertarik pada fungsi dari alat elektronik dan hanya sedikit yang menyadari nilai dari produk-produk ini dan dampaknya terhadap lingkungan. Sebagian dari mereka juga tidak menyadari masa pakai peralatan elektronik yang mereka gunakan. Sehingga jumlah dan limbah produk-produk elektronik yang sudah kedaluwarsa terus meningkat.

Mengambil pelajaran dari negara-negara di Eropa, pemerintah di Asia Pasifik mulai merevisi peraturan mereka untuk meningkatkan upaya daur ulang sampah elektronik mereka. "Negara-negara di Asia Pasifik terus meningkatkan standar pengelolaan limbah. Daur ulang sampah elektronik menjadi fokus mereka," ujar Prashanth Kay, analis di Frost & Sullivan Energy & Environmental Research. "Walaupun sebagian besar negara di Asia Pasifik belum memiliki aturan yang komprehensif mengenai pembuangan sampah elektronik. Berbagai upaya tengah dilakukan untuk menerapkan kebijakan yang tepat."

Menurut analisis Frost & Sullivan, minimnya regulasi sampah elektronik di Asia Pasifik menjadikan wilayah ini pusat pembuangan sampah elektronik dunia. Hal ini menciptakan peluang yang sangat besar bagi pelaku pasar daur ulang limbah elektronik.

Namun kesadaran konsumen yang masih rendah mengenai bahaya sampah produk elektronik menyembunyikan potensi pasar ini. Pelaku industri juga memerlukan investasi yang besar guna mengolah dan mengumpulkan logam berharga dalam sampah elektronik.

"Tantangan terbesar dalam industri daur ulang sampah elektronik adalah menemukan sampah elektronik dalam jumlah yang cukup sehingga mereka bisa berinvestasi di teknologi," ujar Kay. "Para pelaku bisnis daur ulang ini harus bekerja sama dengan jaringan pengepul karena standar tata kelola sampah Asia Pasifik yang masih tertinggal dibanding negara lain."

Kondisi ini membuka peluang bagi terciptanya solusi sampah elektronik yang tidak hanya menyelamatkan lingkungan dan meningkatkan kualitas kesehatan, namun juga memberdayakan masyarakat dan menciptakan lapangan kerja.

Sumber: Hijauku.com