Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ilmuwan AS Temukan Materian Baru Penangkap Metana
Oleh : Dodo
Senin | 22-04-2013 | 10:25 WIB

CALIFORNIA - Tim ilmuwan dari Lawrence Livermore National Laboratory (LLNL) dan University of California, Berkeley, Amerika Serikat berhasil menemukan material baru penangkap emisi metana.

Metana adalah emisi gas rumah kaca terbanyak kedua di atmosfer. Metana menyumbang 30% efek perubahan iklim dan pemanasan global.

Masalah polusi metana terus mengemuka seiring dengan meningkatnya aktivitas ekstraksi minyak dan gas dengan segala cara. Kekhawatiran ini ditambah dengan terus mencairnya es di benua Artika. Saat es mencair, metana yang terperangkap dalam es akan terlepas ke udara dari material yang membusuk atau mengalami kerusakan.

Metana adalah gas rumah kaca yang lebih berbahaya dibanding CO2. Para peneliti menemukan, pelepasan 1% metana di benua Arktika saja, mampu menyamai dampak pemanasan global dan perubahan iklim yang dipicu oleh seluruh emisi CO2 yang dihasilkan oleh aktivitas manusia sejak masa revolusi industri.

Padahal, metana bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi. Sumber emisi metana beragam termasuk dari gas alam, peternakan, pembuangan sampah, tambang batu bara, pupuk kandang, pengolahan air limbah, penanaman padi dan hasil pembakaran bahan bakar fosil. Mengurangi (mitigasi) emisi metana yang terlepas ke atmosfer menjadi salah satu kunci mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim

Tim yang beranggotakan Amitesh Maiti, Roger Aines dan Josh Stolaroff dari LLNL serta Professor Berend Smit, Jihan Kim dan Li-Chiang Lin dari UC Berkeley dan Lawrence Berkeley National Lab ini melakukan penelitian menggunakan simulasi komputer sistematis untuk menguji efektivitas penangkapan metana menggunakan dua material yang berbeda yaitu cairan pelarut dan zeolit berongga, yang sering dipakai sebagai alat penyerap emisi komersial.

Tim peneliti menemukan, beberapa jenis zeolit, memiliki kemampuan untuk dikembangkan – dengan bantuan teknologi – menjadi alat untuk menyerap metana. Penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, edisi 16 April.

Tidak seperti karbon dioksida yang merupakan emisi gas rumah kaca terbesar di atmosfer, yang bisa ditangkap baik secara fisik maupun secara kimiawi oleh berbagai jenis pelarut dan bahan penyerap, metana sangat sulit untuk berinteraksi dengan bahan-bahan lain. “Penangkapan metana sangat sulit dilakukan namun bisa diatasi dengan memilih material yang tepat yang memiliki desain molekular tertentu,” ujar Maiti dalam siaran pers LLNL.

Melalui penelitian yang mendalam, tim peneliti menyimpulkan, tidak ada pelarut biasa (termasuk cairan ion) yang mampu menarik metana dan bisa digunakan secara praktis. Namun tim peneliti berhasil menemukan beberapa jenis penyerap zeolit dari 100.000 struktur zeolit yang mampu berfungsi sebagai bahan penyerap metana.

Salah satu zeolit, dinamakan SBN, mampu menyerap metana kualitas menengah dan mengubahnya menjadi metana berkualitas tinggi, yang bisa dipakai untuk menghasilkan listrik yang efisien.

Zeolit lain, yang dinamakan ZON dan FER, mampu mengumpulkan metana kualitas rendah dan mengubahnya menjadi metana berkualitas menengah yang bisa dipakai untuk membersihkan udara di lokasi pertambangan batu bara. Penelitian LLNL ini didanai oleh Advanced Research Projects Agency-Energy (ARPA-E).

Sumber: hijauku.com