Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kekerasan Makin Marak

MPR Jamin Bangsa Indonesia Masih Miliki Sikap Toleransi
Oleh : si
Senin | 15-04-2013 | 19:10 WIB
Melani_Leimina_Suharli.jpg Honda-Batam

Wakil Ketua MPR Melani Leimina Suharli

JAKARTA, batamtoday - Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menilai maraknya sikap intoleransi antar umat beragama akhir-akhir ini tidak bisa dijadikan dasar bahwa bangsa tidak memiliki sikap toleransi, mengutamakan sikap kekerasan dan tidak menghormati perbedaan.


Penegasan itu disampaikan Wakil Ketua MPR Melani Leimina Suharli dalam Dialog Pilar Negara di Jakarta, Senin (15/4/2013). "Saya tidak setuju tidak setuju kalau bangsa Indonesia tidak toleransi. Dalam perayaan hari besar kebangsaan misalnya, semua umat beragama bahu membahu semua bisa terlaksana di Indonesia," kata Melani.

Putri Pahlawan Nasional J Leimina ini kemudian mencontohkan kehidupan di keluarganya, yang memiliki beragam keyakinan beragama berbeda-beda, namun tetap hidup rukun. "Ini bisa terjadi sebab orangtua mengajarkan agar kita tidak mementingkan diri sendiri dan tidak bersikap kaku di tengah masyarakat," katanya.
 
Sedangkan Anggota MPR dari Kelompok DPD, Bambang Soeroso, menuturkan dirinya ingat filosofi Jawa yang berbunyi toto tentrem kertoraharjo. Filosofi ini menyatakan bila ingin tentram maka harus mampu merajut keanekaragaman di masyarakat.

"Seperti kata Gus Dur, pluralisme adalah modal dalam bernegara," kata Bambang. 

Bambang menilai, Pancasila telah diabaikan dalam beberapa tahun terakhir ini karena banyaknya tontonan yang tidak mendidik yang ditayangkan televisi nasional maupun lokal, yang tidak mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa sehingga tercabik-cabiklah kondisi masyarakat.

"Ada asupan yang salah masuk ke dalam jiwa dan raga yang menggeser nilai-nilai luhur. Kita semua punya kewajiban mengembalikan degradasi moral ke nilai-nilai 4 Pilar,” ujarnya.

Sementara Romo Antonius Benny Susetyo mengatakan, proses dalam membangun karakter bangsa dianggap belum selesai. Akibatnya, masing-masing kelompok mendahulukan indetitas suku, agama, ras dan golongan.

"Akibat proses menbangun karakter bangsa belum selesai ini, maka saat ini kita kehilangan pimpin yang berjiwa kenegarawanan. Kenapa kekerasan tidak pernah putus, karena tidak ada ketegasan hukum," kata Benny

Editor : Surya