Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Situs Sejarah Saqifah Bani Sa'idah

Jejak Awal Kepemimpinan Islam di Sisi Masjid Nabawi
Oleh : Saibansah
Minggu | 28-06-2026 | 16:32 WIB
sejarah_saidah.jpg Honda-Batam
Kondisi Saqifah Bani Saidah yang sedang direnovasi pemerintah Arab Saudi. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTODAY.COM, Madinah - Matahari belum menunjukkan tanda-tanda akan meredup meski waktu Maghrib tinggal menghitung jam. Sinar teriknya masih memantul di pelataran Masjid Nabawi, Sabtu (27/6/2026), membuat sebagian peziarah memilih berteduh di balik payung sambil menanti azan berkumandang.

Di tengah arus jamaah yang memenuhi kawasan masjid, hanya beberapa langkah ke arah barat, berdiri sebuah kawasan yang kini dipagari proyek revitalisasi. Sekilas tampak seperti area pembangunan biasa. Namun, tempat itu menyimpan salah satu kisah paling menentukan dalam sejarah peradaban Islam.

Inilah 'Saqifah Bani Sa'idah', sebuah lokasi yang diyakini menjadi tempat berlangsungnya musyawarah para sahabat setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M. Dari tempat sederhana inilah lahir keputusan yang menentukan arah kepemimpinan umat Islam setelah masa kenabian berakhir.

Bagi banyak jamaah Indonesia, Saqifah Bani Sa'idah mungkin tidak sepopuler Raudhah atau Jabal Uhud. Padahal, situs ini menjadi saksi lahirnya sistem kepemimpinan Islam pertama melalui proses musyawarah yang hingga kini masih menjadi rujukan dalam sejarah politik Islam.

"Tempat ini memiliki nilai sejarah yang sangat besar karena menjadi lokasi pergantian kepemimpinan pertama umat Islam setelah Rasulullah wafat," ujar Ibrahim Al Haq, mahasiswa Universitas Islam Madinah (UIM) yang telah lama bermukim di kota suci tersebut.

Secara historis, Saqifah merupakan balai pertemuan milik Bani Sa'idah, salah satu kabilah dari kaum Ansar di Madinah. Pada masa Nabi Muhammad SAW, bangunan beratap sederhana itu digunakan sebagai tempat berkumpul, bermusyawarah, hingga menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.

Peristiwa paling monumental terjadi beberapa saat setelah Rasulullah wafat pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah atau sekitar Juni 632 M.

Kala itu, umat Islam masih diselimuti duka. Di tengah suasana kehilangan, muncul kebutuhan mendesak untuk menentukan siapa yang akan memimpin komunitas Muslim agar pemerintahan tetap berjalan dan persatuan umat terjaga.

Menurut berbagai literatur sejarah Islam, termasuk karya sejarawan Ibnu Hisyam, Ath-Thabari, dan Ibnu Katsir, kaum Anshar terlebih dahulu berkumpul di Saqifah Bani Sa'idah untuk membahas calon pemimpin. Nama Sa'ad bin Ubadah, pemimpin Khazraj, mengemuka sebagai kandidat.

Kabar pertemuan tersebut kemudian sampai kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Keduanya bersama Abu Ubaidah bin Al-Jarrah segera menuju Saqifah untuk mengikuti musyawarah.

Diskusi berlangsung cukup dinamis. Abu Bakar menyampaikan bahwa Rasulullah pernah memberikan isyarat mengenai kepemimpinan yang berasal dari kalangan Quraisy. Dalam pembicaraan itu, Abu Bakar bahkan sempat mengusulkan Umar bin Khattab atau Abu Ubaidah sebagai pemimpin.

Namun Umar justru menggenggam tangan Abu Bakar dan membaiatnya sebagai khalifah pertama. Para sahabat yang hadir kemudian mengikuti baiat tersebut. Peristiwa itulah yang menandai lahirnya era Khulafaur Rasyidin, yang berlangsung sekitar 632–661 M dengan empat khalifah utama, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Kini, lebih dari 14 abad setelah peristiwa itu terjadi, Saqifah Bani Sa'idah kembali mendapat perhatian.

Pemerintah Arab Saudi tengah melakukan revitalisasi kawasan sebagai bagian dari upaya pelestarian situs-situs bersejarah di sekitar Masjid Nabawi. Proyek tersebut tidak hanya bertujuan menjaga nilai historis kawasan, tetapi juga menghadirkan ruang edukasi bagi jutaan peziarah yang datang setiap tahun.

Menurut Ibrahim, kawasan tersebut nantinya akan ditata menyerupai kondisi Madinah pada masa awal Islam. Replika balai pertemuan akan dibangun, disertai penanaman pohon kurma dan ruang terbuka yang memungkinkan pengunjung memahami fungsi Saqifah pada masa lalu. Sejumlah fasilitas penunjang juga akan disiapkan untuk mendukung kenyamanan peziarah.

Lokasinya pun sangat mudah dijangkau. Dari pelataran Masjid Nabawi, jamaah cukup berjalan beberapa menit ke arah barat untuk menemukan kawasan bersejarah tersebut.

Berkunjung ke Saqifah Bani Sa'idah menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan mengunjungi situs-situs sejarah Islam lainnya.

Di tempat ini, yang tersisa bukanlah bangunan megah atau artefak kuno, melainkan ruang yang mengingatkan bahwa perjalanan peradaban Islam juga dibentuk oleh dialog, musyawarah, dan ikhtiar menjaga persatuan umat.

Saat matahari Madinah perlahan condong ke barat dan adzan Maghrib mulai menggema dari Masjid Nabawi, kawasan yang sedang dipugar itu seolah menghubungkan dua masa sekaligus: masa lalu yang melahirkan sejarah besar dan masa depan yang berupaya menjaga warisan tersebut agar tetap hidup dalam ingatan generasi Muslim dari seluruh dunia.

Editor: Dardani