Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Amerika Kembali Serang Iran, Teheran Bombardir Bahrain dan Kuwait
Oleh : Irawan
Minggu | 28-06-2026 | 13:32 WIB
AS_Serang_Iran_b.jpg Honda-Batam
AS melancarkan gelombang kedua serangan udara terhadap sejumlah target militer Iran atas arahan Presiden Donald Trump (Foto: AP Photo)

BATAMTODAY.COM, Jakarta-Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat, setelah militer AS melancarkan gelombang kedua serangan udara terhadap sejumlah target militer Iran atas arahan Presiden Donald Trump.

Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan ke Bahrain dan Kuwait, memicu kekhawatiran bahwa kesepakatan gencatan senjata kedua negara berada di ambang kegagalan.

Serangan terbaru terjadi hanya beberapa hari, setelah Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata sementara.

Namun, aksi saling serang kembali terjadi menyusul insiden terhadap kapal tanker minyak di kawasan Teluk Persia.

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan udara menargetkan infrastruktur pengawasan militer Iran, sistem komunikasi, fasilitas pertahanan udara, gudang penyimpanan drone, serta kemampuan penebar ranjau.

Menurut militer AS, operasi tersebut merupakan respons atas serangan terhadap kapal tanker berbendera Panama, Kiku, yang mengangkut minyak mentah milik perusahaan energi nasional Qatar. Kapal itu diserang saat melintasi kawasan Teluk Persia pada Sabtu.

Melalui unggahan di Truth Social, Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat menyerang fasilitas rudal, drone, dan radar pantai Iran karena menilai Teheran telah melanggar kesepakatan gencatan senjata.

"Kami telah menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, serta situs radar pantai karena melanggar perjanjian gencatan senjata, lagi!" tulis Trump dilansir dari AP News, Minggu (28/6/2026).

Trump memperingatkan, Washington dapat mengambil langkah militer yang lebih besar apabila situasi terus memburuk.

"Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi," tulisnya.

Militer AS menyebut, Iran sebenarnya memiliki kesempatan untuk menghormati kesepakatan gencatan senjata, tetapi memilih melanjutkan aksi militer setelah menyerang kapal tanker tersebut.

Sementara itu, televisi pemerintah Iran melaporkan ledakan terjadi di wilayah utara Selat Hormuz, tidak lama setelah serangan udara Amerika Serikat.

Beberapa jam kemudian, militer Kuwait mengklaim berhasil mencegat rudal dan drone Iran yang mengarah ke wilayahnya. Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai korban maupun kerusakan akibat serangan tersebut.

Di Bahrain, Kementerian Luar Negeri menyatakan sejumlah drone Iran juga menargetkan wilayah negaranya. Pemerintah Bahrain menyebut serangan itu sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasional.

Sebelumnya, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang sejumlah lokasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah sebagai bentuk balasan. Namun, mereka tidak mengungkap lokasi yang menjadi sasaran.

Di tengah eskalasi tersebut, Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin negosiasi dengan Iran meminta Teheran kembali ke meja perundingan.

"Iran harus mengangkat telepon jika ada perbedaan mengenai perjanjian gencatan senjata. Namun, kekerasan akan dibalas dengan kekerasan," kata Vance melalui media sosial.

Di sektor maritim, Pusat Informasi Maritim Gabungan yang diawasi Angkatan Laut AS memperluas jalur pelayaran di dekat pantai Oman guna mengurangi risiko gangguan terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Meski demikian, Iran menegaskan, seluruh kapal tetap harus mematuhi aturan yang diberlakukan Teheran di kawasan tersebut. Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, bahkan menegaskan bahwa Iran memiliki kewenangan mengatur lalu lintas di Selat Hormuz.

Pusat Informasi Maritim Gabungan memperingatkan ancaman terhadap kapal-kapal komersial masih berada pada level tinggi. Para pelaut diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan ranjau laut serta operasi militer yang masih berlangsung di sekitar Selat Hormuz.

Editor: Surya