Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Cikgu Zamroni, Murid Pendorong Kursi Roda Gurunya di Tanah Suci
Oleh : Saibansah
Selasa | 23-06-2026 | 20:48 WIB
2306_cikgu-Zamroni-pendorong-kursi.jpg Honda-Batam
Cikgu Zamroni dengan ikhlas mendorong kursi roda gurunya di Masjid Nabawi Madinah. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTODAY.COM, Madinah - Senyum ikhlas menghiasi wajahnya. Tak tampak lelah dan napas memburu, meski kedua tangannya sedang mendorong kursi roda. Dari hotel tempatnya menginap menuju Masjid Nabawi, tidak kurang 3000 langkah. Laki-laki itu tenang dan ikhlas terus mendorong seorang pria lanjut usia. Bukan ayah kandung atau pun pamannya. "Beliau ini guru SMP saya," ujarnya, lirih.

MasyaAllah. Seorang murid yang kini telah dewasa dan sukses jadi guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kwarasan Nglipar Gunung Kidul Yogyakarta, rela mendorong kursi roda guru SMP-nya itu bolak-balik dari hotel menunaikan sholat lima waktu di Masjid Nabawi.

Siapa nama murid pendorong kursi roda gurunya itu? Berikut ini catatan Pemimpin Redaksi BATAMTODAY.COM, Saibansah Dardani yang saat ini menjadi Petugas MCH (Media Center Haji) PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi 2026.

Namanya, Zamroni. Asal Gunungkidul Yogyakarta. Ternyata, sejak sebelum berangkat ke Tanah Suci, cikgu Zamroni ini telah menyiapkan fisiknya agar dapat meraih nilai pahala ibadah haji-plus. Plus? Iya, plus. Bukan naik haji dengan fasilitas hotel dan layanan yang plus, tapi meraup pahalanya yang plus.

Yang dikejar cikgu Zamroni di Tanah Suci itu adalah, pahala haji mabrur yang tiada imbalan setimpal untuknya kecuali surga. Janji ini sudah disampaikan Rasulullah dulu yang hadisnya diriwayatkan Bukhari. "Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga."

Tidak cukup membawa pulang pahala haji mabrur saja, tapi cikgu Zamroni ternyata juga ingin meraup pahala mendorong kursi roda gurunya itu. Tidak hanya mendorong kursi roda itu selama di Madinah, tapi juga saat miqat di Masjid Bir Ali, sebelum bergerak menuju Masjid Haram di Makkah.

Bahkan, sampai selama menunaikan seluruh rangkaian haji, mulai tawaf, sa'i hingga wukuf di Arafah, lalu 'mabit' di Muzdalifah serta melempar batu simbol perlawanan terhadap setan di Mina.

Kebetulan, cikgu Zamroni adalah jemaah Kloter YIA 10 dan tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Aisyiah Gunungkidul Yogyakarta. Di kelompok ini ada satu program untuk menghadirkan layanan ibadah yang ramah bagi jemaah lanjut usia. Program itu diberinama Paskuda (Pasukan Kursi Roda).

Program ini menjadi solusi atas meningkatnya jumlah jemaah lansia dan berisiko tinggi dalam penyelenggaraan haji. Maka, semua kursi roda yang digunakannya pun dibeli secara mandiri oleh KBIHU Aisyiah Gunungkidul Yogyakarta. Lalu, saat kembali ke Indonesia, kursi-kursi roda itu pun ditinggalkan di Tanah Suci, untuk digunakan jemaah haji dan umrah yang akan datang nanti.

"Mungkin inilah cara Allah mempertemukan saya dengan guru saya ini, di Tanah Suci," ujar Zamroni yang mengaku sudah puluhan tahun tidak bertemu dengan gurunya itu.

Saya bertemu dengan cikgu Zamroni di pelataran Masjid Nabawi dan di halaman Masjid Bir Ali. Meski waktu pertemuan kami singkat, tapi komunikasi dan silaturahmi via handphone terus kami jalin. Alhamdulillah.

Editor: Gokli