Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Menkomdigi Tegaskan Indonesia Harus Jadi Pemain Utama, Bukan Sekadar Pasar Ekonomi Digital
Oleh : Redaksi
Sabtu | 20-06-2026 | 15:28 WIB
menkomdigi1.jpg Honda-Batam
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid. (Komdigi)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lagi hanya berperan sebagai pasar besar dalam ekonomi digital global. Menurutnya, Indonesia harus mampu menjadi pencipta sekaligus pemilik nilai ekonomi digital agar manfaat pertumbuhan sektor tersebut dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat dan memperkuat perekonomian nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Meutya Hafid dalam Asia Economic Summit yang berlangsung di Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026). Ia menilai Indonesia saat ini berada pada momentum strategis untuk mengubah potensi ekonomi digital menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.

Dengan nilai ekonomi digital yang telah mencapai sekitar US$ 100 miliar atau terbesar di kawasan ASEAN, Indonesia diproyeksikan mengalami pertumbuhan signifikan hingga menyentuh US$ 360 miliar pada tahun 2030.

"Menghubungkan masyarakat adalah bagian yang cukup mudah. Justru bagian yang jauh lebih sulit dan jauh lebih berharga adalah menghubungkan sistem kita serta mengubah seluruh pertumbuhan itu menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan. Inilah babak ketika Asia Tenggara tidak mau hanya menjadi pasar, namun juga turut membentuk ekonomi digital dunia," tegas Meutya.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki berbagai keunggulan untuk menjadi motor penggerak ekonomi digital kawasan. Selain didukung jumlah penduduk mencapai 281 juta jiwa atau hampir 40 persen populasi ASEAN, Indonesia juga memiliki sekitar 220 juta pengguna internet, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta realisasi investasi asing langsung yang mencapai US$ 55 miliar pada tahun lalu.

Meski demikian, Meutya mengingatkan bahwa besarnya nilai ekonomi digital tidak serta-merta mencerminkan kekuatan ekonomi yang sesungguhnya apabila manfaatnya belum sepenuhnya dinikmati di dalam negeri. "Indonesia telah menjadi ekonomi digital terbesar di ASEAN dengan nilai sekitar US$ 100 miliar atau hampir sepertiga dari total kawasan. Namun, besarnya angka tidak otomatis berarti kekuatan yang sesungguhnya," ujarnya.

Untuk itu, pemerintah mendorong strategi retensi nilai ekonomi digital agar keuntungan yang dihasilkan dapat lebih banyak berputar di dalam negeri. Menurut Meutya, teknologi digital harus mampu meningkatkan produktivitas masyarakat sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), petani, nelayan, serta sektor ekonomi rakyat lainnya.

Ia mencontohkan bagaimana pemanfaatan platform digital dapat membantu nelayan menjual hasil tangkapan secara langsung kepada konsumen tanpa melalui banyak perantara, sehingga pendapatan yang diterima menjadi lebih besar. "Sebagai contoh, nelayan kini bisa menjual hasil tangkapan langsung ke pasar melalui aplikasi dan mendapatkan pendapatan jauh lebih besar. Produsen kecil dapat menjangkau pelanggan di seluruh negeri bahkan kawasan tanpa perantara yang mengambil sebagian besar keuntungan. Inilah makna sebenarnya dari transformasi digital," jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Meutya juga menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, nilai utama AI tidak terletak pada kecanggihan teknologinya semata, melainkan pada sejauh mana teknologi tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah berharap transformasi digital yang terus berkembang dapat menjadi instrumen penting dalam memperkuat daya saing nasional, memperluas kesempatan ekonomi, serta menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Editor: Gokli