Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Mengganti Peran Anak di Tanah Suci

Kisah Petugas Landis Merawat Haji Lansia dari Memandikan Hingga Ganti Popok
Oleh : Saibansah
Kamis | 18-06-2026 | 16:08 WIB
Honda-Batam
Petugas Lansia dan Disabilitas Sektor 5 Daker Makkah Muhammad Rosy (kiri) dan Abdul Aziz (kanan) saat ditemui di Makkah, 17 Juni 2026. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTODAY.COM, Makkah - Di tengah hiruk-pikuk musim haji 2026 yang perlahan mendekati fase akhir, ada kisah-kisah sunyi yang jarang terlihat di balik megahnya ibadah jutaan Muslim di Tanah Suci. Kisah itu datang dari lorong-lorong hotel tempat para jamaah lanjut usia beristirahat, dari kursi roda yang didorong dengan sabar menuju Masjidil Haram, hingga dari kamar-kamar tempat para petugas dengan ikhlas menggantikan peran anak dan keluarga yang jauh di Indonesia.

Selama hampir dua bulan bertugas di Daerah Kerja (Daker) Makkah, Tim Layanan Lansia dan Disabilitas (Landis) Sektor 5 menjalani hari-hari yang tidak hanya dipenuhi tugas administratif dan pelayanan teknis. Mereka hadir sebagai sahabat, penguat, sekaligus keluarga bagi ribuan jamaah lansia yang menjalankan perjalanan spiritual terbesar dalam hidupnya.

Bertanggung jawab 18 hotel dengan sekitar 3.800 jamaah lansia, tim Landis menghadapi beragam tantangan. Dari jumlah tersebut, sekitar 800 orang berada dalam kondisi yang memerlukan pendampingan intensif sejak kedatangan hingga puncak ibadah haji.

Abdul Aziz, salah seorang petugas Landis Sektor 5, menuturkan bahwa pelayanan dimulai dari hal-hal mendasar yang sering kali luput dari perhatian banyak orang. Mulai dari kunjungan rutin ke hotel, pemantauan kesehatan, penyelenggaraan senam lansia, hingga pendampingan pelaksanaan umrah wajib.

Bagi jamaah lansia, ritme pelayanan pun dibuat berbeda. Mereka diberi waktu beristirahat lebih panjang agar kondisi fisik benar-benar siap sebelum menjalani rangkaian ibadah di Masjidil Haram. "Kami ingin memastikan mereka memiliki tenaga yang cukup dan bisa beribadah dengan nyaman," ujar Aziz.

Menuntun Langkah Menuju Ka'bah

Salah satu momen yang paling membekas bagi para petugas adalah ketika mendampingi jamaah menuju umrah wajib.

Perjalanan dimulai sejak dari hotel, menaikkan jamaah ke dalam bus, mengantar hingga Terminal Syib Amir, lalu berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan kursi roda tersedia dan jamaah dapat melanjutkan perjalanan menuju Masjidil Haram dengan aman.

Di tengah keramaian terminal, tidak sedikit jamaah yang diliputi kebingungan dan kecemasan. Sebagian baru pertama kali menjejakkan kaki di Tanah Suci pada usia senja. Di saat-saat seperti itulah, para petugas hadir memberi ketenangan.

"Banyak yang menangis ketika akhirnya bisa melihat Ka'bah dan menyelesaikan umrah. Kami ikut terharu melihat kebahagiaan mereka," kata Aziz.

Namun pekerjaan mereka tidak berhenti ketika ibadah selesai. Di kamar-kamar hotel, bentuk pelayanan yang diberikan sering kali melampaui batas tugas formal seorang petugas. Ada jamaah yang harus disuapi, dipakaikan popok, dimandikan, hingga dibantu saat ke kamar mandi.

Muhammad Rosi masih mengingat sejumlah jamaah yang hidup sendiri tanpa pendamping keluarga. Dalam kondisi itu, para petugas itulah yang menjadi satu-satunya tempat bergantung.

"Kami pernah membantu memandikan jamaah, mengganti popok, sampai menceboki. Bahkan ada jamaah yang mengalami stroke dan selalu menghubungi kami ketika ingin ke toilet," ujarnya.

Pada awalnya, tidak sedikit jamaah yang merasa sungkan menerima bantuan tersebut. Namun perlahan, hubungan yang terbangun bukan lagi antara petugas dan jamaah, melainkan seperti keluarga.

Saat memandikan atau mendampingi mereka, percakapan tentang anak, cucu, dan kampung halaman mengalir begitu saja. Dari situ tumbuh kepercayaan yang mendalam.

"Mereka akhirnya terbuka dan merasa nyaman. Bahkan banyak yang kemudian selalu mencari kami ketika membutuhkan bantuan," tutur Aziz.

Ujian Kesabaran Saat Safari Wukuf di Arafah

Pengabdian para petugas mencapai puncaknya saat fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), khususnya dalam program Safari Wukuf Lansia.

Sebanyak 38 jamaah lansia dengan kondisi khusus ditempatkan di hotel transit untuk mendapatkan pendampingan penuh. Selama lima hingga tujuh hari, petugas berjaga hampir tanpa henti. Setiap 15 menit mereka berpatroli memeriksa kondisi jamaah. Waktu tidur pun nyaris tidak ada.

"Kadang sehari hanya tidur satu sampai dua jam," kata Rosi.

Tantangan terbesar datang dari jamaah yang mengalami demensia aktif. Kondisi tersebut membuat perilaku mereka sulit diprediksi.

Ada yang tiba-tiba keluar kamar pada malam hari sambil mengatakan ingin pulang ke kampung halaman. Ada yang masuk ke kamar jamaah lain, membongkar barang-barang, bahkan mengalami kesulitan mengendalikan buang air.

Dalam situasi seperti itu, para petugas dituntut untuk tetap sabar, sigap, dan penuh empati. "Kami harus memastikan mereka aman sekaligus menjaga kebersihan dan kenyamanan jamaah lainnya," ujar Rosi.

Selain itu, tim juga bertanggung jawab memastikan obat-obatan diminum tepat waktu. Bersama tenaga kesehatan, mereka melakukan pemantauan rutin terhadap kondisi setiap jamaah.

Air Mata Perpisahan

Kini, ketika musim haji memasuki fase akhir dan jamaah mulai bersiap kembali ke Indonesia, suasana haru mulai terasa di banyak hotel kawasan Sektor 5.

Hubungan yang terjalin selama berminggu-minggu telah melahirkan ikatan emosional yang kuat. Tidak sedikit jamaah yang meneteskan air mata saat mengetahui waktu perpisahan semakin dekat.

Bagi para lansia itu, para petugas bukan lagi sekadar pendamping ibadah. Mereka adalah anak-anak yang hadir di saat keluarga tidak bisa menemani.

"Semua jamaah Safari Wukuf menyampaikan terima kasih karena mereka tidak pernah merasa sendirian di Tanah Suci," kata Aziz.

Bagi Aziz dan rekan-rekannya, itulah makna sesungguhnya dari pelayanan haji. Bukan sekadar memastikan rangkaian ibadah berjalan sesuai prosedur, melainkan menghadirkan rasa aman, nyaman, dan kasih sayang bagi mereka yang membutuhkan.

Sebab di balik setiap langkah jamaah lansia menuju Baitullah, ada tangan-tangan tulus yang bekerja dalam senyap, memastikan mereka dapat menunaikan ibadah dengan tenang dan kembali ke Tanah Air membawa predikat haji yang mabrur.

Editor: Dardani