Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Yusril Koto Sebut Aksi Ribuan Warga Pulau Kasu di Kantor LIRA Kepri Ditunggangi Oknum DPRD
Oleh : Paskalis Rianghepat
Senin | 15-06-2026 | 14:48 WIB
demo-yusril1.jpg Honda-Batam
Unjuk rasa ribuan warga dari sejumlah pulau di wilayah Kecamatan Belakang Padang, terutama Pulau Kasu di Kantor LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kepulauan Riau yang berlokasi di Ruko Bida Asri Indah, Kecamatan Batam Kota, Senin (15/6/2026). (Foto: Paskalis RH)

BATAMTODAY.COM, Batam - Polemik antara masyarakat Pulau Kasu dan Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kepulauan Riau memasuki babak baru. Gubernur LIRA Kepri, Yusril Koto, menduga aksi unjuk rasa ribuan warga yang mengepung Kantor LIRA Kepri di Batam, Senin (15/6/2026), tidak sepenuhnya murni berasal dari aspirasi masyarakat, melainkan telah ditunggangi kepentingan pihak tertentu yang merasa terganggu dengan isu dugaan proyek siluman yang sebelumnya ia ungkap ke publik.

Yusril menilai terdapat indikasi keterlibatan oknum anggota DPRD dalam mobilisasi massa yang menuntut dirinya meminta maaf dan dicopot dari jabatan sebagai pimpinan LIRA Kepri.

"Ada oknum DPRD yang menunggangi aksi itu. Saya menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Tetapi saya mencurigai ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan masyarakat untuk menyerang saya," kata Yusril Koto kepada wartawan melalui sambungan telepon.

Menurut Yusril, aksi yang berujung pada tuntutan pencopotan dirinya dari jabatan Ketua LIRA Kepri dinilai tidak sejalan dengan substansi persoalan yang selama ini disampaikannya. Ia menegaskan bahwa isu yang diangkat berkaitan dengan dugaan proyek siluman dan penggunaan anggaran publik di Pulau Kasu, bukan serangan terhadap masyarakat setempat.

"Saya menduga ada pihak yang merasa terusik dengan informasi yang saya sampaikan. Lalu opini dibangun sedemikian rupa sehingga masyarakat ikut tersulut emosi," ujarnya.

Yusril menjelaskan bahwa unggahan yang menjadi polemik merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial yang dijalankan LIRA sebagai lembaga swadaya masyarakat. Ia membantah tudingan bahwa dirinya berniat mencemarkan nama baik warga Pulau Kasu.

Sebaliknya, Yusril meminta perhatian publik tetap diarahkan pada substansi persoalan yang diungkapkan, yakni dugaan proyek yang dinilai tidak transparan. "Kalau ada yang merasa keberatan, mari kita buka datanya. Jangan malah mengalihkan isu dengan menyerang pribadi saya atau meminta saya dicopot," tegasnya.

Sebelumnya, ribuan warga Pulau Kasu bersama masyarakat dari sejumlah wilayah kepulauan di Batam mendatangi Kantor LIRA Kepri di kawasan Botania. Massa memprotes unggahan Yusril Koto di media sosial yang menyinggung dugaan proyek siluman di Pulau Kasu serta menyebut adanya keterlibatan anggota DPRD dalam persoalan tersebut.

Dalam aksi tersebut, warga menuntut Yusril menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat Pulau Kasu. Massa juga mendesak Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LIRA untuk mencopot Yusril dari jabatannya sebagai Ketua LIRA Kepri serta meminta aparat penegak hukum menyelidiki dugaan pelanggaran hukum atas unggahan yang dianggap merugikan nama baik masyarakat.

Meski menghadapi tekanan dari berbagai pihak, Yusril menegaskan tetap membuka ruang dialog untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Namun, ia juga meminta agar publik tidak mengabaikan kemungkinan adanya kepentingan lain di balik gelombang protes yang terjadi.

"Saya tetap membuka ruang dialog. Tetapi masyarakat juga berhak tahu apakah ada pihak tertentu yang sedang memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan lain," katanya.

Yusril berharap polemik yang berkembang tidak sekadar menjadi arena saling tuding, melainkan dapat difokuskan pada upaya mengungkap fakta dan transparansi terkait dugaan proyek yang menjadi akar persoalan.

Editor: Gokli