Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Inflasi Kepri Mei 2026 Naik 3,92 Persen, Cabai dan Transportasi Jadi Pendorong Utama
Oleh : Aldy
Jum\'at | 05-06-2026 | 12:48 WIB
inflasi-kepri4.jpg Honda-Batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Batam - Laju inflasi Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,38 persen secara bulanan (month to month/mtm), melandai dibandingkan April 2026 yang sebesar 0,43 persen. Namun secara tahunan (year on year/yoy), inflasi justru mengalami kenaikan menjadi 3,92 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada pada level 3,06 persen.

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Kepri, Rony Widijarto P, menyampaikan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi terjadi di seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di wilayah Kepri. Kota Batam mencatat inflasi sebesar 0,33 persen (mtm), Kota Tanjungpinang 0,59 persen (mtm), dan Kabupaten Karimun sebesar 0,63 persen (mtm).

Secara nasional, inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen. Dengan demikian, inflasi Kepri berada 0,84 poin persentase di atas rata-rata nasional. Di wilayah Sumatera, Kepri menempati posisi keempat sebagai provinsi dengan inflasi tertinggi, setelah Aceh (5,12 persen), Sumatera Utara (4,35 persen), dan Riau (3,95 persen).

Rony menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi pada Mei 2026. Kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 1,27 persen dengan andil 0,37 persen terhadap inflasi bulanan.

Kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura, seperti cabai merah, tomat, sawi hijau, dan ketimun, menjadi faktor utama pendorong inflasi. Kondisi ini dipengaruhi berakhirnya masa panen raya di wilayah Sumatera bagian utara, yang berdampak pada berkurangnya pasokan dan meningkatnya harga pangan.

"Situasi tersebut terjadi karena berakhirnya masa panen raya di beberapa daerah sentra produksi, sehingga pasokan komoditas hortikultura berkurang dan harga mengalami penyesuaian," ujar Rony, Kamis (4/6/2026).

Selain itu, kelompok transportasi turut mengalami inflasi sebesar 0,25 persen dengan andil 0,03 persen. Kenaikan tersebut dipicu oleh dampak kenaikan harga energi global yang mendorong penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami deflasi sebesar 1,35 persen dengan andil -0,10 persen. Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya harga emas perhiasan seiring koreksi harga emas dunia akibat pergeseran portofolio investasi global.

Rony menambahkan, sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga. Bank Indonesia bersama TPID se-Kepri juga menjalankan program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) melalui berbagai kegiatan stabilisasi pangan.

Selama Mei 2026, sejumlah langkah pengendalian inflasi telah dilakukan, antara lain High Level Meeting (HLM) TPID Kepri dan Kota Tanjungpinang, publikasi edukasi pengendalian inflasi, operasi pasar dan pasar murah di Kabupaten Lingga, Kota Tanjungpinang, serta Kabupaten Karimun, hingga penguatan kapasitas kelembagaan TPID.

Memasuki Juni 2026, BI Kepri mengingatkan adanya sejumlah risiko yang berpotensi mendorong inflasi, di antaranya prakiraan fenomena El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat, kenaikan harga energi global yang berdampak pada biaya BBM dan logistik, serta potensi kenaikan harga pangan akibat berakhirnya musim panen di sejumlah daerah pemasok.

Meski demikian, tekanan inflasi diperkirakan dapat tertahan oleh normalisasi harga emas perhiasan di pasar global.

Ke depan, Bank Indonesia bersama TPID akan terus memperkuat koordinasi melalui peningkatan produksi pangan, pelaksanaan pasar murah, penguatan kerja sama antardaerah, serta berbagai program stabilisasi harga. Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga inflasi Kepri tetap berada dalam sasaran nasional sebesar 2,5+/-1 persen hingga akhir 2026.

Editor: Gokli