Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

PDIP Soroti Anjloknya Rupiah pada Peringatan Hari Pancasila
Oleh : Redaksi
Senin | 01-06-2026 | 21:08 WIB
hasto_pancaasila.jpg Honda-Batam
Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto dalam peringatan hari lahir Pancasila yang digelar di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026) (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta-Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam peringatan hari lahir Pancasila yang digelar di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026).

Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menilai pelemahan rupiah telah memicu berbagai persoalan ekonomi yang berdampak langsung pada masyarakat.

Menurutnya, kondisi tersebut turut memperberat beban utang pemerintah dan menciptakan fenomena 'gali lubang tutup lubang'.

Hasto menyebut sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini telah berada pada tahap yang mengkhawatirkan, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok, meningkatnya angka kemiskinan, sulitnya mencari pekerjaan, hingga maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Berbagai persoalan kenaikan harga kebutuhan pangan rakyat, kemiskinan, sulitnya mencari lapangan pekerjaan, dan pemutusan hubungan kerja, kini telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan," kata Hasto.

Dalam kesempatan tersebut, PDIP mengusulkan konsep fiscal resilience atau ketahanan fiskal yang diwujudkan melalui kebijakan belanja negara yang lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.

Menurut Hasto, langkah tersebut diperlukan karena kebijakan yang berjalan saat ini dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat kecil.

Ia menegaskan, semangat Pancasila seharusnya menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

"Rekonsolidasi fiskal yang kami usulkan bukan sekadar teknis, tetapi soal keberpihakan pada rakyat, bukan pada ambisi kekuasaan," ujarnya.

Selain menyoroti kondisi ekonomi nasional dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS, Hasto juga menyinggung lagu berjudul 'Bung Karno Bapak Marhaenisme' yang kini diwajibkan diputar dalam berbagai agenda internal partai.

Menurutnya, lagu tersebut dibuat sebagai upaya meluruskan narasi sejarah PDIP yang sempat mengalami keterputusan pada masa Orde Baru. Lagu itu juga diharapkan mampu memperkuat semangat perjuangan partai dalam membela rakyat kecil.

"Kita sudah tertinggal dengan Singapura, bahkan dengan Malaysia, pendidikan kita menurun kualitasnya. Maka dengan spirit lagu 'Bung Karno Bapak Marhaenisme', kita memperkuat watak sejati politik yang membebaskan dari berbagai belenggu kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan," kata Hasto.

Editor: Surya