Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Disdik Kepri Hapus Sistem Dua Shift di Batam Mulai 2026, Soroti Krisis Daya Tampung Sekolah
Oleh : Aldy
Kamis | 14-05-2026 | 13:48 WIB
andi-agung2.jpg Honda-Batam
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau, Andi Agung. (Dok Batamtoday.com)

BATAMTODAY.COM, Batam - Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau memastikan sistem pembelajaran dua shift di sejumlah sekolah di Kota Batam akan dihapus mulai tahun ajaran 2026/2027 setelah bertahun-tahun menjadi solusi atas keterbatasan ruang belajar dan membludaknya jumlah peserta didik.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau, Andi Agung, menyebut tahun ajaran 2025/2026 menjadi periode terakhir penerapan sistem belajar dua shift yang selama ini masih diterapkan di sejumlah sekolah negeri di Batam.

"Ini tahun terakhir persoalan penerimaan murid baru seperti yang terjadi di masa lalu. Ke depan tidak ada lagi sistem pembelajaran dua shift," kata Andi Agung, Kamis (14/5/2026).

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengakuan bahwa persoalan daya tampung sekolah selama ini belum sepenuhnya teratasi. Sistem dua shift yang diterapkan bertahun-tahun dinilai menjadi tanda ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dengan ketersediaan ruang belajar di sekolah negeri.

Menurut Andi, penerimaan peserta didik baru ke depan tidak lagi bisa dipaksakan melebihi kapasitas sekolah. "Penerimaan siswa tidak bisa lagi dipaksakan. Harus disesuaikan dengan daya tampung sekolah," tegasnya.

Ia menjelaskan, tingginya angka kelulusan setiap tahun tidak diimbangi dengan penambahan infrastruktur pendidikan yang memadai, sehingga menyebabkan penumpukan siswa di sejumlah sekolah favorit.

Kondisi tersebut memaksa pemerintah menerapkan sistem dua shift sebagai solusi jangka pendek agar seluruh siswa tetap dapat tertampung di sekolah negeri.

Untuk mengatasi persoalan itu, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau bersama pemerintah kabupaten dan kota disebut telah melakukan pembangunan sekolah baru, penambahan ruang kelas serta peningkatan sarana dan prasarana pendidikan dalam tiga tahun terakhir, khususnya untuk jenjang SMA.

"Sistem juga terus kami perbarui. Dua tahun terakhir jumlah peserta didik sudah mulai disesuaikan dengan kapasitas sekolah," ujarnya.

Namun demikian, persoalan ketimpangan kualitas dan persebaran sekolah masih menjadi tantangan besar di Batam. Penumpukan siswa di sekolah tertentu menunjukkan masih tingginya kesenjangan fasilitas maupun kualitas pendidikan antarsekolah.

Pemerintah daerah kini mengklaim mulai fokus mengurangi konsentrasi siswa di sekolah-sekolah favorit agar proses belajar mengajar berjalan lebih optimal.

Selain itu, jumlah siswa dalam satu kelas juga akan disesuaikan dengan ketentuan untuk menjaga efektivitas pembelajaran. "Ke depan semuanya harus sesuai aturan. Tidak bisa lagi memaksakan," kata Andi.

Ia mengakui pembenahan sistem pendidikan di Kepri masih membutuhkan dukungan pemerintah pusat, terutama untuk pembangunan infrastruktur pendidikan dan peningkatan kualitas tenaga pendidik.

"Sejak 2020 hingga sekarang kita terus berbenah. Memang sempat menghadapi berbagai tantangan, terutama pada 2021. Namun setiap tahun selalu ada perbaikan, terutama dalam pengembangan sarana dan prasarana pendidikan," tutupnya.

Editor: Gokli