Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Tempe Jadi Jembatan Rasa Indonesia dan Amerika di San Francisco
Oleh : Redaksi
Kamis | 14-05-2026 | 12:08 WIB
Jembatan-Rasa.jpg Honda-Batam
From Tempeh to Table: An Indonesian Vegan Superfood Cooking Experience yang digelar di San Francisco pada 9 Mei 2026. (Kemlu)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Konsulat Jenderal Republik Indonesia di San Francisco mempromosikan tempe sebagai simbol persahabatan budaya Indonesia dan Amerika Serikat melalui kegiatan From Tempeh to Table: An Indonesian Vegan Superfood Cooking Experience yang digelar di San Francisco pada 9 Mei 2026.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 140 peserta yang terdiri atas anggota San Francisco Vegan Society, komunitas kuliner, sahabat Indonesia hingga para istri konsul jenderal yang tergabung dalam Legion of the San Francisco Consular Corps.

Acara yang diselenggarakan bersama San Francisco Vegan Society dan Reculture Foods itu menghadirkan pengenalan sejarah tempe, lokakarya pembuatan tempe, demonstrasi masakan vegan khas Indonesia hingga jamuan makan siang berbahan dasar tempe dan kuliner nabati Nusantara.

Konsul Jenderal RI San Francisco, Yohpy Ichsan Wardana, mengatakan tempe bukan sekadar makanan tradisional, tetapi juga bagian dari identitas budaya Indonesia yang lahir dari pengetahuan lokal dan diwariskan lintas generasi.

"Tempe adalah contoh indah pertemuan antara kekayaan hayati dan kebudayaan. Di dalamnya ada kedelai, jamur Rhizopus oligosporus, serta tradisi fermentasi yang telah lama hidup dalam masyarakat Indonesia," ujar Yohpy.

Menurutnya, tempe juga memiliki makna penting dalam hubungan Indonesia dan Amerika Serikat. Ia menjelaskan, sebagian besar tempe di Indonesia saat ini diproduksi menggunakan kedelai hasil budidaya petani Amerika Serikat, sementara teknik fermentasinya berasal dari tradisi pangan Indonesia yang kini semakin dikenal masyarakat Amerika.

"Dengan pemahaman ini, tempe menjadi simbol persahabatan kedua bangsa. Tempe menunjukkan bagaimana pangan dapat mempertemukan bangsa, budaya dan negara," katanya.

Kegiatan tersebut berlangsung di tengah upaya Pemerintah Indonesia mengusulkan budaya pembuatan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Pengakuan itu dinilai penting untuk memperkuat posisi tempe sebagai tradisi pangan sehat, berkelanjutan dan berbasis komunitas.

Dukungan terhadap nominasi tersebut juga datang dari Wakil Presiden San Francisco Vegan Society, Ravinder Sehgal. Ia menilai tempe tidak hanya dikenal sebagai sumber protein nabati, tetapi juga mewakili pengetahuan dan tradisi budaya Indonesia.

"Budaya pembuatan tempe merepresentasikan praktik pangan yang berkelanjutan, kaya warisan budaya dan layak memperoleh pengakuan global," ujar Ravinder.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa pangan mampu mempererat hubungan lintas budaya dan membangun rasa saling memahami antarnegara. "Pangan memiliki kekuatan luar biasa untuk membangun persahabatan, pemahaman dan komunitas. Hari ini, kita tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga berbagi tradisi, cerita dan nilai," tuturnya.

Dalam acara itu, co-founder Reculture Foods, Feby Boediarto, memandu sesi sejarah serta lokakarya pembuatan tempe. Ia memperkenalkan tempe sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus praktik pangan berkelanjutan masyarakat Indonesia.

Sementara itu, Chef Wisma Indonesia San Francisco, Alan Ramdani, mendemonstrasikan sejumlah hidangan vegan Indonesia seperti lodeh, tempe mendoan dan sambal Lamongan.

Suasana acara semakin hangat dengan kehadiran Martin Yan yang turut berpartisipasi dalam demonstrasi memasak bersama peserta.

KJRI San Francisco juga memberikan apresiasi kepada William Shurtleff dan Akiko Aoyagi, penulis The Book of Tempeh yang dinilai berjasa memperkenalkan tempe ke Amerika Serikat dan dunia internasional.

Melalui kegiatan tersebut, KJRI San Francisco berharap tempe semakin dikenal dunia bukan hanya sebagai pangan sehat berbasis nabati, tetapi juga sebagai jembatan budaya antara Indonesia dan Amerika Serikat di tengah meningkatnya perhatian global terhadap pola hidup berkelanjutan.

Editor: Gokli