Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Musyrif Diny Imbau Jemaah Lansia Tak Paksakan Ibadah Sunnah
Oleh : Saibansah
Kamis | 14-05-2026 | 09:08 WIB
140506_jemaah-lansia-ibadah.jpg Honda-Batam
Jemaah haji Indonesia sedang menunaikan ibadah di Masjid Nabawi Madinah. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTODAY.COM, Madinah - Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mengimbau jemaah haji Indonesia, terutama lanjut usia (lansia), agar tidak memaksakan diri menjalankan ibadah sunnah menjelang puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Imbauan tersebut disampaikan agar jemaah dapat menjaga kondisi fisik dan memiliki cukup tenaga untuk menjalankan rangkaian utama ibadah haji, khususnya wukuf di Arafah.

Musyrif Diny Kemenhaj, KH Muhammad Cholil Nafis, mengatakan jemaah tidak perlu khawatir kehilangan pahala apabila tidak dapat menjalankan ibadah sunnah karena alasan kesehatan atau demi menjaga stamina.

"Ketika seseorang sudah memiliki niat baik untuk beribadah, tetapi terhalang uzur seperti sakit atau kondisi fisik, maka tetap mendapatkan pahala," ujar Cholil.

Ia secara khusus meminta jemaah lansia tidak memaksakan diri untuk selalu beribadah di Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram jika kondisi kesehatan tidak memungkinkan.

Menurut dia, jemaah tetap dapat melaksanakan shalat di hotel yang masih berada dalam area lingkungan masjid dan tetap memperoleh pahala karena telah memiliki niat untuk beribadah di masjid.

"Meskipun pendapat yang kuat menyebut shalat di masjid lebih utama, jika seseorang sudah berniat ke masjid namun terhalang uzur, maka pahala tetap diperoleh," katanya.

Imbauan serupa disampaikan Musyrif Diny lainnya, Prof Asrorun Ni'am Sholeh. Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu meminta jemaah memusatkan perhatian pada pelaksanaan rukun haji dan tidak berlebihan menjalankan ibadah sunnah yang dapat menguras tenaga.

Menurut Ni'am, jemaah sebaiknya menjalankan umrah maupun thawaf secara wajar, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

“Umrah dan thawaf dilakukan sewajarnya saja, tidak perlu dipaksakan. Yang terpenting tetap menjaga ibadah karena pemondokan di Tanah Haram juga berada di kawasan suci,” ujarnya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri yang juga Musyrif Diny, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, mengingatkan jemaah agar tidak menguras tenaga sebelum pelaksanaan wukuf di Arafah.

Ia menekankan bahwa inti pelaksanaan ibadah haji adalah wukuf di Arafah sehingga kondisi kesehatan harus benar-benar dijaga.

"Sebelum puncak haji sebaiknya jangan terlalu memforsir diri untuk umrah berkali-kali atau aktivitas lain yang melelahkan. Haji itu intinya adalah wukuf di Arafah," kata Kafabihi.

Editor: Dardani