Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Mbah Mardijiyono, Jemaah Haji Berusia 103 Tahun Sholat di Raudhah
Oleh : Saibansah
Rabu | 06-05-2026 | 09:48 WIB
Mbah_Mardi_Haji.jpg Honda-Batam
Mbah Mardijiyono di atas kursi roda menuju Raudhah di Masjid Nabawi. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)


BATAMTODAY.COM, Madinah - Langit dini hari masih menyisakan gelap ketika sebuah kursi roda perlahan melaju di pelataran Masjid Nabawi. Arah tujuannya jelas: Raudhah, sebidang tempat sholat yang bagi banyak orang hanya bisa disentuh lewat doa.

 Di atas kursi itu, Mardijiyono menatap sekeliling dengan mata berbinar. Bibirnya bergetar, suaranya lirih namun berulang, "Remen, remen. Remen sekali." Senyum yang mengembang di wajah renta itu seperti menyimpan perjalanan panjang yang akhirnya sampai di tujuan.

Pada usia 103 tahun, ia menapaki satu titik yang selama ini hanya hidup dalam harapan: bersujud di Raudhah dan berziarah ke makam Rasulullah SAW. Selasa, 6 Mei 2026, sekitar pukul 02.40 waktu Arab Saudi, langkah yang tak lagi kuat itu akhirnya tiba di 'taman surga'.

Perjalanan menuju titik itu bukan perkara mudah. Tubuhnya yang rapuh harus dibantu kursi roda, didorong pendamping dari KBIHU, serta dikawal petugas sektor khusus (Seksus) Masjid Nabawi. Namun, keinginan yang telah lama dipendam sejak di tanah air seakan mengalahkan segala keterbatasan fisik.

Ketua kloter YIA 9, Edy Purwanto, menyebut momen itu sebagai kebanggaan. Ia mengenang bagaimana Mbah Mardijiyono sejak di Indonesia tak henti menyampaikan keinginannya untuk beribadah di Raudhah.

Keinginan itu akhirnya terwujud melalui layanan prioritas bagi jamaah lansia dan disabilitas. Skema tersebut memberi ruang bagi mereka untuk tetap beribadah dengan aman, di tengah padatnya arus jamaah di Masjid Nabawi.

Kepala Sektor Khusus Nabawi, M Thoriq, mengaku terharu melihat keteguhan itu. Di usia yang melampaui satu abad, semangat Mbah Mardijiyono tetap menyala.

Namun, kisah Mbah Mardijiyono tak berhenti di Raudhah. Ia bermula bahkan sebelum langkahnya menyentuh pelataran masjid.

Tak banyak yang menyadari, lelaki sepuh itu berada di dalam salah satu bus yang membawa jamaah dari Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, pada Minggu (3/5/2026) lalu. Termasuk para wartawan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) yang saat itu menjalankan tugas peliputan.

Di antara mereka, Ahmad Nuril Fahmi hanya melihat seorang jamaah lansia yang kesulitan turun dari bus. Tanpa banyak tanya, ia menawarkan bantuan menggendong lelaki sepuh itu turun perlahan. "Saya tidak tahu yang saya gendong itu Mbah Mardijiyono," ujarnya.

Rekan-rekannya, seperti Bhery Hamzah dan Mahmud Fauzi, juga tak menyadari bahwa yang mereka bantu adalah jamaah tertua pada gelombang pertama jemaah haji Indonesia tahun 2026. Semua terjadi begitu saja, tanpa rencana, tanpa sorotan.

Di sela tugas meliput, para wartawan itu memang melakukan tugas pelayanan jamaah haji Indonesia. Seperti mengantar mereka kembali ke hotel, membantu akses ibadah ke Raudhah, hingga hal-hal sederhana seperti memberikan sandal pengganti atau menemani jamaah ke toilet.

Di Kota Nabi, tugas jurnalistik dan panggilan kemanusiaan berjalan beriringan. Hampir tiga pekan bertugas, keduanya menjadi dua sisi yang tak terpisahkan.

Bagi mereka, membantu para tamu Allah bukan sekadar kewajiban tambahan, melainkan bagian dari keberkahan yang datang tanpa diminta.

Di bawah kubah hijau Masjid Nabawi, sujud Mbah Mardijiyono menjadi penutup dari sebuah perjalanan panjang. Bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan kesetiaan pada harapan yang tak pernah pudar.

Editor: Dardani