Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

May Day 2026, Anshor Mu'min Soroti Kontras Performa Keamanan Ibu Kota dan Jawa Barat
Oleh : Redaksi
Sabtu | 02-05-2026 | 20:08 WIB
0205_sekjen-kaki-Anshor-Mumin.jpg Honda-Batam
Sekretaris Jenderal Komite Anti Korupsi Indonesia (KAKI), Anshor Mu'min. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pengamat Kepolisian Nasional sekaligus Sekretaris Jenderal Komite Anti Korupsi Indonesia (KAKI), Anshor Mu'min, menyoroti dinamika pengamanan Hari Buruh Internasional (May Day), yang berlangsung 2026 pada Jumat, 1 Mei 2026.

Ia menilai kesigapan Polda Metro Jaya dalam mengawal peringatan May Day di kawasan Monas, Jakarta, merupakan wujud profesionalisme yang layak diapresiasi. Terlebih, kehadiran Presiden Prabowo Subianto di tengah massa buruh menuntut standar keamanan tinggi, yang dinilai berhasil dipenuhi dengan baik.

Menurut Anshor, keberhasilan tersebut tidak lepas dari kemampuan deteksi dini aparat. Polda Metro Jaya disebut berhasil mengamankan sedikitnya 101 orang yang diduga akan melakukan tindakan provokatif. Polisi juga menyita sejumlah barang bukti seperti bom molotov, senjata tajam, ketapel, hingga paku beton yang diduga akan digunakan untuk merusak fasilitas publik.

"Ini menunjukkan bahwa Polri di Ibu Kota tidak hanya bekerja secara reaktif, tetapi juga proaktif dalam memetakan potensi ancaman," ujar Anshor melalui keterangan tertulis, Sabtu (2/5/2026).

Namun, Anshor memberikan catatan kritis terhadap kinerja Polda Jawa Barat. Ia menilai aparat di wilayah tersebut kecolongan dalam mengantisipasi aksi anarkis di Bandung, seperti pembakaran pos polisi, perusakan videotron, dan kios.

Menurutnya, peristiwa itu menunjukkan adanya celah keamanan yang signifikan di wilayah penyangga. Ia menilai, ketika Jakarta berhasil dikendalikan, daerah justru menjadi sasaran kelompok yang ingin menciptakan kerusuhan.

Secara akademis, Anshor mengaitkan fenomena ini dengan Routine Activity Theory dari Cohen dan Felson. Ia menjelaskan bahwa kerusuhan terjadi karena adanya pelaku termotivasi, target yang tersedia, dan lemahnya pengawasan.

"Di Jakarta, peran capable guardian berjalan efektif melalui pendekatan intelligence-led policing. Sementara di Jawa Barat, lemahnya pengawasan di titik periferi membuka ruang bagi pelaku," jelasnya.

Ia juga menyinggung Broken Windows Theory, di mana tindakan vandalisme kecil yang tidak segera ditangani dapat memicu kerusakan yang lebih besar.

Anshor menegaskan bahwa pola serangan yang menyasar objek vital di luar titik kumpul massa harus menjadi perhatian serius. Polri diminta memperluas pengawasan, tidak hanya terfokus pada pusat keramaian.

Sebagai penutup, ia mendorong agar keberhasilan Polda Metro Jaya dijadikan model pengamanan nasional, sementara kejadian di Jawa Barat harus menjadi bahan evaluasi bagi pimpinan Polri.

"Keamanan tidak boleh parsial. Keberhasilan di Ibu Kota harus diikuti dengan kesiapan di daerah agar perayaan demokrasi seperti May Day tidak ditunggangi oleh agenda kekerasan," tegasnya.

Anshor juga menambahkan, keberhasilan pengamanan secara umum tidak terlepas dari peran Kapolri yang memimpin langsung operasi serta sinergi antara Polri, TNI, dan pemerintah. Ia menilai pengamanan May Day 2026 yang berlangsung tanpa kekerasan dari aparat menjadi indikator bahwa reformasi Polri berjalan ke arah yang positif.

Editor: Yudha