Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Senja di Rumah Bocor Lagoi, Harapan Terakhir Kakek Kim Leng untuk Tempat Tinggal Layak di Bintan
Oleh : Harjo
Senin | 27-04-2026 | 10:08 WIB
Kim-Leng.jpg Honda-Batam
Dalam sebuah rumah kayu berdiri rapuh, Kim Leng (90) menghabiskan sisa hidupnya --sendiri, tanpa penghasilan tetap, dan jauh dari kata layak. (Foto: Harjo)

BATAMTODAY.COM, Bintan - Di ujung jalan tanah di Desa Sebong Lagoi, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, sebuah rumah kayu berdiri rapuh. Di sanalah Kim Leng (90) menghabiskan sisa hidupnya --sendiri, tanpa penghasilan tetap, dan jauh dari kata layak.

Atap rumah itu tak lagi utuh. Sebagiannya hilang dimakan usia, sisanya bocor di banyak titik. Pelafon nyaris runtuh, hanya ditopang kayu seadanya. Pintu depan dan belakang pun tampak ringkih, seolah tak lagi mampu melindungi dari angin malam. Di dalam, sebuah dipan kayu sederhana dengan kasur tipis menjadi tempat ia beristirahat setiap hari.

Tubuh Kim Leng telah renta. Pendengarannya melemah, langkahnya pun tertatih. Namun, ketika seorang tamu datang --Lim King, warga setempat-- ia tetap menyambut dengan senyum tipis yang hangat, seakan menutupi lelah yang tak pernah benar-benar pergi.

"Saya tidak paham kesalahan apa yang sudah saya dan orang tua saya perbuat, sehingga harus hidup seperti ini," ucap Kim Leng lirih saat ditemui, Sabtu (25/4/2026) petang.

Dengan pakaian lusuh dan ikat pinggang dari tali nilon, ia perlahan menceritakan perjalanan hidupnya. Lebih dari 30 tahun lalu, Kim Leng bersama istrinya tinggal di kawasan Lagoi. Namun, sekitar awal 1990-an, lahan tempat tinggal mereka diganti rugi untuk pengembangan kawasan wisata yang kini dikenal sebagai kawasan Bintan Resort --salah satu penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar.

"Dulu saya tinggal di Lagoi bersama istri. Setelah ada pembangunan, kami dipindahkan ke sini," tuturnya dengan bahasa Indonesia bercampur Tionghoa.

Sejak belasan tahun terakhir, Kim Leng hidup seorang diri. Ia tak lagi bekerja dan tak memiliki penghasilan tetap. Sesekali, anak perempuannya yang juga hidup dalam keterbatasan datang membantu, meski tak bisa banyak.

"Bantuan jarang sekali. Banyak yang datang melihat, tapi kondisinya tetap seperti ini," katanya, menunjuk bagian rumah yang rusak dari depan hingga belakang.

Di usia yang semakin senja, harapannya sederhana: memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan layak. Ia ingin menjalani sisa hidup tanpa rasa takut --takut tertimpa atap rumahnya sendiri.

Warga sekitar, Susanto, membenarkan bahwa Kim Leng telah lama tinggal di rumah tersebut. Ia menjelaskan, rumah dan lahan itu sebenarnya telah dijual beberapa tahun lalu. Namun, pemilik baru masih memberi izin kepada Kim Leng untuk tetap menempatinya.

"Pemiliknya masih mengizinkan beliau tinggal di sana selama masih mau," ujar Susanto.

Kisah Kim Leng menjadi potret nyata kehidupan lansia yang luput dari perhatian. Di tengah pesatnya pembangunan kawasan wisata di Bintan, masih ada warga yang bertahan dalam keterbatasan ekstrem.

Kini, harapan itu tertuju pada kepedulian banyak pihak --terutama pemerintah-- agar Kim Leng dapat menikmati masa tuanya dengan lebih layak. Setidaknya, tanpa dihantui kecemasan setiap kali hujan turun atau angin kencang menerpa rumahnya yang nyaris roboh.

Editor: Gokli