Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Rahasia Dapur Uhud Taiba Catering Rasa Nusantara bagi Jamaah Haji Indonesia
Oleh : Saibansah
Minggu | 26-04-2026 | 08:32 WIB
dapur_uhud.jpg Honda-Batam
Para pekerja Uhud Taiba for Catering sedang menyiapkan hidangan makan siang untuk jemaah haji Indonesia di Madinah. (Foto: Saibansah/BATAMTODAY.COM)

BATAMTODAY.COM, Madinah - Aroma khas rempah Indonesia tercium di dapur Uhud Taiba for Catering yang berlokasi di Prince Naif ibn Abdulaziz Road, Madinah. Di tengah padatnya musim haji 2026, dapur ini menjadi salah satu penopang kebutuhan konsumsi bagi jamaah haji Indonesia.

 Puluhan koki tampak sibuk menyiapkan berbagai hidangan. Mereka mengolah bahan makanan dengan teknik memasak khas Nusantara, mulai dari menggoreng, memanggang, hingga meracik bumbu tradisional.

Chef Muhammad Suhendi, yang memimpin dapur tersebut, mengatakan bahwa pelayanan konsumsi bagi jamaah dilakukan dengan pendekatan penuh tanggung jawab.

"Jamaah kami anggap seperti orang tua sendiri, sehingga kami berusaha memberikan yang terbaik," ujarnya.

Pada musim haji, dapur ini dipercaya menyediakan ribuan porsi makanan setiap hari. Total sekitar 6.000 porsi disiapkan untuk memenuhi kebutuhan sarapan, makan siang, dan makan malam jamaah.

Menurut Suhendi, penggunaan bumbu asli Indonesia menjadi kunci utama menjaga cita rasa. Berbagai bumbu seperti rendang, balado, hingga nasi goreng kampung didatangkan langsung dari Tanah Air, lalu diolah oleh koki Indonesia.

Di area dapur, aktivitas memasak berlangsung intens. Sejumlah pekerja terlihat mengolah daging dengan racikan rempah seperti jahe, pala, kemiri, dan kayu manis. Di sisi lain, proses penggorengan dan pemanggangan dilakukan menggunakan peralatan modern berkapasitas besar.

Dapur ini dilengkapi berbagai fasilitas, termasuk alat pemanggang berkapasitas ratusan potong ayam, ruang pendingin, serta area penyortiran bahan makanan. Seluruh proses produksi diawasi ketat, termasuk melalui kamera pengawas, untuk menjaga standar kebersihan dan keamanan.

Menu yang disajikan pun bervariasi, mulai dari gepuk, rendang, teri balado, hingga olahan tempe dan sayuran. Semua hidangan disesuaikan dengan kebutuhan gizi jamaah, yang sebagian besar merupakan lanjut usia.

Pengawasan kualitas dilakukan oleh tenaga ahli gizi berlisensi di Arab Saudi. Standar nutrisi disesuaikan agar makanan tetap sehat, aman, dan mencukupi kebutuhan energi jamaah selama menjalankan ibadah.

Proses memasak hingga pengemasan berlangsung relatif cepat, sekitar dua jam. Setelah itu, makanan langsung didistribusikan dalam kemasan higienis agar tetap hangat saat diterima jamaah.

Bagi para pengelola dapur, layanan konsumsi ini tidak sekadar memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga menghadirkan suasana rumah bagi jamaah di perantauan.

Di tengah rangkaian ibadah yang padat, kehadiran makanan bercita rasa Indonesia diharapkan dapat membantu jamaah menjaga kondisi fisik sekaligus mengobati kerinduan terhadap kampung halaman.

Editor: Dardani