Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Harapkan Uluran Tangan

Nestapa Kim Leng, Lansia di Sebong Lagoi Hidup Sebatang Kara di Rumah Nyaris Roboh
Oleh : Harjo
Sabtu | 25-04-2026 | 19:28 WIB
2504_nestapa-kil-leng-sebong-lagoi.jpg Honda-Batam
Kondisi Kim Leng (90) sangat memprihatinkan dan butuh uluran tangan. (Harjo)

BATAMTODAY.COM, Bintan - Nasib memprihatinkan dialami Kim Leng, warga Dusun III RT 04/RW 03 Nomor 1, Desa Sebong Lagoi, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan. Di usia senja, yang sudah 90 tahun, ia menjalani hari-hari dalam keterbatasan, tanpa penghasilan tetap dan tinggal di rumah yang kondisinya jauh dari layak huni.

Bangunan yang ditempatinya kini nyaris roboh. Sebagian atap rumah sudah hilang akibat rusak, sementara sisanya mengalami kebocoran di berbagai titik. Pelafon rumah pun terlihat hampir runtuh dan hanya ditopang kayu seadanya. Kondisi pintu, baik depan maupun belakang, juga tampak tidak layak.

Keprihatinan semakin terasa saat melihat tempat tidurnya. Dipan sederhana dari kayu dengan kasur tipis menjadi satu-satunya alas beristirahat, yang diduga telah digunakan sejak lama.

Saat ditemui, Sabtu (25/4/2026) petang, kondisi fisik Kim Leng terlihat sangat renta. Pendengarannya mulai berkurang dan langkahnya tampak lemah. Meski demikian, ia tetap berusaha menyambut tamu dengan senyum ramah.

"Saya tidak paham kesalahan apa yang saya dan orangtua saya perbuat, sampai harus hidup seperti ini," ujarnya lirih.

Dengan pakaian sederhana dan ikat pinggang dari tali nilon, Kim Leng menceritakan bahwa dirinya telah menetap di Desa Sebong lebih dari 30 tahun. Ia pindah ke lokasi tersebut setelah lahan tempat tinggal sebelumnya di kawasan Lagoi digantirugi sekitar tahun 1990-an, seiring pengembangan kawasan wisata Bintan Resort.

"Sebelumnya tinggal di Lagoi bersama istri. Setelah ada pengembangan, lahan diganti rugi dan kami mendapat lahan di sini," tuturnya dengan bahasa Indonesia bercampur dialek Tionghoa.

Kini, ia hidup seorang diri sejak belasan tahun terakhir. Tanpa pekerjaan dan penghasilan, kebutuhan sehari-hari hanya sesekali dibantu oleh anak perempuannya. Namun, kondisi ekonomi sang anak juga terbatas.

"Bantuan dari sekitar sini sangat jarang, meski sudah banyak yang datang melihat kondisi saya," katanya.

Di sisa usianya, Kim Leng hanya berharap dapat tinggal di rumah yang lebih aman dan layak, tanpa rasa khawatir tertimpa bangunan yang sewaktu-waktu bisa runtuh.

Sementara itu, warga setempat, Susanto, membenarkan bahwa Kim Leng telah lama tinggal di rumah tersebut. Ia menjelaskan, rumah dan lahan itu sebenarnya telah dijual beberapa tahun lalu. Namun, pemilik baru masih memberikan izin kepada Kim Leng untuk tetap menempatinya.

"Pemilik lahan memperbolehkan beliau tinggal di sana selama masih mau," jelas Susanto.

Melihat kondisi tersebut, perhatian dan kepedulian berbagai pihak, khususnya pemerintah, sangat dibutuhkan. Harapannya, Kim Leng dapat menjalani masa tuanya dengan lebih layak dan aman, tanpa dihantui kekhawatiran akan kondisi tempat tinggalnya yang kian rapuh.

Editor: Yudha