Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Forum 'The Future of Influence' Bahas Krisis Kepercayaan di Era AI dan Masa Depan PR
Oleh : Redaksi
Sabtu | 25-04-2026 | 15:08 WIB
The-Future.jpg Honda-Batam
Vero bersama Magnifique menggelar forum strategis bertajuk The Future of Influence pada Kamis (23/4/2026). (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Vero bersama Magnifique menggelar forum strategis bertajuk The Future of Influence pada Kamis (23/4/2026). Kegiatan ini mempertemukan pelaku industri hubungan masyarakat (PR), media, pemasaran, teknologi, hingga akademisi untuk membahas arah baru pengaruh di Indonesia.

Forum ini digelar di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang mengubah cara produksi dan konsumsi konten. Di satu sisi, AI menekan biaya produksi dan mempercepat distribusi informasi. Namun di sisi lain, kondisi tersebut memunculkan tantangan serius terkait kredibilitas, disinformasi, dan kepercayaan publik.

CEO Vero, Brian Griffin, menilai era digital saat ini menghadirkan paradoks baru dalam dunia komunikasi. "Kita memasuki fase di mana pengaruh semakin mudah diciptakan, tetapi semakin sulit dipercaya. Peran PR kini tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membangun kredibilitas dan reputasi," ujarnya.

Ia menjelaskan, metrik tradisional seperti jangkauan dan interaksi tidak lagi cukup untuk mengukur pengaruh. Dalam kondisi banjir informasi, kredibilitas menjadi faktor pembeda utama bagi brand dan institusi.

Founder dan Managing Partner Magnifique Indonesia, Arifaldi Dasril, menambahkan bahwa tantangan utama saat ini adalah membangun kepercayaan di tengah tekanan algoritma dan dominasi platform digital. "Brand tidak hanya bersaing untuk mendapatkan perhatian, tetapi juga kepercayaan. Komunikasi kini harus mampu membangun validasi dan makna yang bertahan," katanya.

Forum ini menempatkan pengaruh bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan sebuah sistem yang melibatkan media, kreator, platform, dan brand dalam membentuk persepsi publik. Kompleksitas ini semakin meningkat seiring berkembangnya ekonomi kreator dan peran AI dalam produksi konten.

Kreator Ryan Adriandhy menekankan pentingnya autentisitas dalam membangun koneksi dengan audiens. "Pengaruh bukan lagi soal siapa yang memiliki audiens terbesar, tetapi siapa yang mampu membangun koneksi paling kuat. Audiens kini semakin selektif," ujarnya.

Sementara itu, CEO Mantappu dan Co-Founder Creators Association Southeast Asia (CASA), Jehian Sijabat, melihat pergeseran kolaborasi antara brand dan kreator ke arah yang lebih berkelanjutan. "Ekonomi kreator di Asia Tenggara berkembang pesat. Kepercayaan, konsistensi, dan kesamaan tujuan menjadi fondasi utama kolaborasi," jelasnya.

Dari sisi industri, Marketing Director Xiaomi Indonesia, Andi Renreng, menegaskan bahwa pengaruh harus berdampak langsung pada bisnis. "Pengaruh tidak cukup hanya terlihat, tetapi harus relevan dan mampu menghasilkan dampak nyata bagi konsumen," katanya.

Forum ini menegaskan bahwa di era digital, pengaruh dapat dibangun secara instan, namun kepercayaan memerlukan konsistensi dan integritas. Ke depan, organisasi yang mampu bertahan adalah mereka yang dapat menjaga kredibilitas, beradaptasi dengan perubahan teknologi, serta tetap relevan di tengah dinamika industri komunikasi.

Seiring meningkatnya peran Indonesia dalam ekonomi digital dan kreator di Asia Tenggara, kemampuan menjawab tantangan ini dinilai akan menentukan masa depan komunikasi, reputasi, dan kepemimpinan di kawasan.

Editor: Gokli