Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Indonesia-CERN Teken Kerja Sama Riset, Perkuat Diplomasi Sains Global
Oleh : Redaksi
Jum\'at | 24-04-2026 | 10:08 WIB
Indonesia-CERN.jpg Honda-Batam
Indonesia dan Badan Riset dan Inovasi Nasional resmi menandatangani International Cooperation Agreement (ICA) dengan CERN pada 21 April 2026 di Jenewa, Swiss. (Kemlu)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Badan Riset dan Inovasi Nasional resmi menandatangani International Cooperation Agreement (ICA) dengan CERN pada 21 April 2026 di Jenewa, Swiss. Kesepakatan ini menjadi tonggak penting dalam memperluas jejaring riset global Indonesia.

Penandatanganan dilakukan secara sirkuler oleh Direktur Jenderal CERN, Mark Thomson, dan Kepala BRIN, Arif Satria, setelah melalui proses negosiasi selama dua tahun yang melibatkan koordinasi lintas lembaga.

Inisiatif kerja sama ini bermula dari agenda strategis Kementerian Luar Negeri sejak November 2023, yang diusulkan oleh Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN. Perundingan resmi dimulai pada 20 Maret 2024, beriringan dengan pembahasan adendum nota kesepahaman terkait Proyek ALICE (A Large Ion Collider Experiment) di Large Hadron Collider, yang rampung pada Oktober 2025.

Perundingan ICA kemudian diselesaikan secara substantif pada 12 November 2025 dan mendapat persetujuan Dewan CERN dalam Closed Council Meeting pada 11 Desember 2025.

Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN, Nunung Nuryartono, menegaskan kerja sama ini sejalan dengan semangat pengembangan ilmu pengetahuan untuk perdamaian dan kesejahteraan. "Science for peace and innovation for prosperity merupakan semboyan yang diusung BRIN dan juga CERN. Kami percaya bahwa kerja sama Indonesia-CERN ini akan membawa manfaat bagi masyarakat dan memperkuat daya saing Indonesia," ujarnya dalam pertemuan di CERN.

ICA Indonesia-CERN dinilai sebagai pijakan kuat dalam memperkuat diplomasi sains nasional. Perjanjian ini memberikan kerangka hukum untuk membuka akses lebih luas bagi peneliti, mahasiswa, serta institusi Indonesia dalam ekosistem riset global.

Pasca-penandatanganan, Kementerian Luar Negeri akan mengawal perundingan protokol turunan guna memastikan kepentingan nasional terakomodasi, termasuk penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui beasiswa, pertukaran peneliti, serta akses strategis ke fasilitas riset CERN.

Kerja sama ini juga menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Indonesia dalam menjadikan diplomasi sains sebagai instrumen strategis untuk memperkuat posisi di kancah multilateral dan kerja sama teknis internasional.

Melalui kesepakatan ini, Indonesia kian menegaskan perannya sebagai mitra strategis dalam perkembangan ilmu pengetahuan global, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan institusi ilmiah terkemuka dunia.

Editor: Gokli