Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Buya Subi Tampil di Australia, Kain Tenun Donggala Dorong Tren Fashion Berkelanjutan Global
Oleh : Redaksi
Selasa | 21-04-2026 | 14:28 WIB
Buya-Subi.jpg Honda-Batam
Kain tradisional Indonesia kembali mencuri perhatian dunia melalui gelaran Eco Fashion Showcase Buya Subi yang digelar oleh KJRI Perth bekerja sama dengan Eco Fashion Week Australia dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. (Kemlu)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kain tradisional Indonesia kembali mencuri perhatian dunia melalui gelaran Eco Fashion Showcase Buya Subi yang digelar oleh KJRI Perth bekerja sama dengan Eco Fashion Week Australia dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Acara berlangsung di Museum Australia Barat Boola Bardip dengan mengusung pesan kuat tentang pentingnya keberlanjutan dalam industri mode.

Sebanyak 22 karya desainer Australia ditampilkan dengan mengolah kain tenun khas Donggala, Buya Subi, yang dipadukan dengan material ramah lingkungan. Setiap karya tidak hanya menonjolkan aspek estetika, tetapi juga mengedepankan prinsip keberlanjutan dalam proses produksinya.

Konsul Jenderal RI di Perth, Irvan Buchari, menegaskan bahwa masa depan industri fashion harus mampu menyeimbangkan nilai keindahan dan tanggung jawab lingkungan. "Keberlanjutan tidak hanya indah dipandang, tetapi juga harus memberikan dampak nyata," ujarnya dalam sambutan pembukaan, belum lama ini.

Kain Buya Subi sendiri dikenal mengusung prinsip ramah lingkungan, mulai dari penggunaan bahan alami, penerapan konsep zero waste, hingga pemberdayaan perempuan sebagai penenun utama. Nilai tersebut memperkuat posisinya sebagai representasi fashion berkelanjutan dari Indonesia.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah, Diah Agustiningsih, menekankan bahwa promosi Buya Subi tidak hanya memperkenalkan produknya, tetapi juga mengangkat nilai budaya dan martabat para perajinnya. "Buya Subi bukan sekadar kain, tetapi juga representasi warisan budaya dan kerja keras para penenun, yang mayoritas perempuan," jelasnya.

Antusiasme tinggi terlihat dari para undangan yang terdiri dari desainer, diplomat, perwakilan pemerintah Australia Barat, hingga media lokal. Mereka mengapresiasi keberhasilan para desainer dalam memadukan warna, tekstur, dan filosofi dalam setiap karya.

Sementara itu, pendiri sekaligus CEO Eco Fashion Week Australia, Zuhan Mills, menyoroti pentingnya pergeseran global dari fast fashion menuju pendekatan yang lebih berkelanjutan.

Menurutnya, Buya Subi menjadi contoh konkret bagaimana produk tradisional dapat bertransformasi menjadi inspirasi bagi industri fashion dunia.

Kolaborasi antara KJRI Perth, Eco Fashion Week Australia, dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah terjalin sejak 2024, termasuk melalui partisipasi dalam ajang Eco Fashion Runway di Busselton Jetty. Upaya tersebut membuahkan hasil dengan masuknya Buya Subi ke dalam United Nations Fashion and Lifestyle Network pada 2026.

Ke depan, rangkaian promosi akan berlanjut ke Canberra dan Vancouver, sebelum mencapai puncaknya pada gelaran Eco Fashion Week Australia 2026 di Perth pada Oktober mendatang.

Melalui inisiatif ini, Indonesia tidak hanya mempromosikan kekayaan budaya, tetapi juga menegaskan komitmennya dalam mendorong masa depan industri fashion global yang lebih berkelanjutan.

Editor: Gokli


A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/cpanel/ea-php54/root/usr/lib64/php/modules/xsl.so' - /lib64/libxslt.so.1: symbol xmlGenericErrorContext, version LIBXML2_2.4.30 not defined in file libxml2.so.2 with link time reference

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: