Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ketahanan Pangan RI Kuat Hadapi Geopolitik dan El Nino
Oleh : Redaksi
Minggu | 12-04-2026 | 17:32 WIB
bapanas.jpg Honda-Batam
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta-Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan ketahanan pangan strategis Indonesia berada dalam kondisi kuat di tengah dinamika geopolitik dan ancaman El Nino.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan sebagian besar kebutuhan pangan masyarakat ditopang produksi domestik.

"Ketahanan pangan pokok strategis Indonesia tergolong kuat karena mayoritas kebutuhan konsumsi masyarakat dipenuhi dari produksi dalam negeri," kata Ketut dikutip, Minggu (12/4/2026).

Dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026 yang disusun bersama kementerian dan lembaga terkait, dari 10 komoditas pangan pokok strategis, hanya dua hingga tiga komoditas yang masih membutuhkan impor.

Sementara itu, komoditas seperti beras, jagung, bawang merah, cabai, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula diproyeksikan tidak memerlukan impor untuk kebutuhan konsumsi.

Ketut menjelaskan produksi beras nasional menunjukkan kinerja positif dengan capaian tahun sebelumnya mencapai 34,7 juta ton. Kondisi ini diperkuat oleh stok awal 2026 atau 'carry over stock' yang mencapai sekitar 12 juta ton.

Pemerintah menargetkan peningkatan ketersediaan beras pada 2026 dengan proyeksi stok akhir atau 'carry over stock' ke 2027 dapat mencapai 16 juta ton.

Perhitungan tersebut berasal dari stok awal 2026 sebesar 12,4 juta ton ditambah proyeksi produksi tahunan 34,7 juta ton, kemudian dikurangi kebutuhan konsumsi sebesar 31,1 juta ton, sehingga stok akhir 2026 diperkirakan mencapai 16 juta ton.

Pemerintah juga menegaskan keberpihakan kepada petani dengan menugaskan Perum Bulog untuk menyerap gabah.

Ketut menyebut stok beras yang dikelola Bulog saat ini seluruhnya berasal dari produksi dalam negeri tanpa impor sejak 2025.

"Cadangan beras kita di Bulog sekarang mencapai lebih dari 4 juta ton dan akan terus ditingkatkan hingga 4 juta ton. Artinya dari sisi produksi, gabah sangat baik," jelasnya.

Selain beras, jagung pakan juga telah mencapai swasembada karena Indonesia menghentikan impor sejak 2025.

Komoditas lain seperti daging ayam ras, telur ayam ras, cabai, dan bawang merah juga dipenuhi dari produksi dalam negeri.

"Kita hanya mengimpor dua atau tiga komoditas utama seperti kedelai, bawang putih, dan daging sapi, tetapi tidak dominan," tambahnya.

Editor: Surya