Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Menag Gaungkan Ekoteologi di Forum Internasional, Dorong Peran Agama Atasi Krisis Lingkungan Global
Oleh : Redaksi
Sabtu | 04-04-2026 | 11:28 WIB
Forum-Internasional.jpg Honda-Batam
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, saat mengikuti konferensi global yang diselenggarakan Kementerian Agama Arab Saudi secara daring, Kamis (2/4/2026). (Kemenag)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengampanyekan konsep ekoteologi dalam forum internasional sebagai upaya memperkuat peran agama dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Gagasan tersebut disampaikan Nasaruddin saat mengikuti konferensi global yang diselenggarakan Kementerian Agama Arab Saudi secara daring, Kamis (2/4/2026). Forum tersebut mempertemukan delapan negara Islam untuk membahas isu strategis keagamaan dan kemanusiaan kontemporer.

Konferensi yang semula direncanakan berlangsung tatap muka di Mekkah pada 1-4 April 2026 itu dialihkan menjadi daring akibat kondisi keamanan kawasan Timur Tengah yang belum stabil dan berdampak pada gangguan penerbangan sejumlah peserta.

Adapun negara yang berpartisipasi dalam forum tersebut meliputi Indonesia, Pakistan, Maroko, Kuwait, Mesir, Yordania, Arab Saudi, dan Gambia. Pertemuan ini menjadi wadah dialog lintas negara dalam merespons tantangan global, khususnya krisis lingkungan dan peran agama dalam mengatasinya.

Dalam pemaparannya, Nasaruddin menegaskan bahwa dunia saat ini tidak hanya menghadapi krisis iklim, tetapi juga krisis nilai dan kemanusiaan. Ia menilai persoalan lingkungan tidak semata terkait perubahan suhu dan cuaca, melainkan juga berkaitan dengan dimensi moral manusia.

"Ini bukan sekadar krisis suhu, melainkan krisis nurani. Bukan hanya gangguan cuaca, tetapi gangguan pada sistem nilai dan perilaku manusia," ujarnya dari Jakarta.

Ia juga menyoroti berbagai persoalan global, seperti pemanasan global, krisis air dan pangan, serta penurunan keanekaragaman hayati yang berdampak langsung pada stabilitas sosial dunia. Menurutnya, kondisi tersebut memerlukan pendekatan yang tidak hanya berbasis sains dan teknologi, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai agama.

Nasaruddin kemudian memperkenalkan ekoteologi sebagai pendekatan strategis yang mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam menjaga keseimbangan alam. Dalam konteks Indonesia, konsep tersebut bukanlah aliran baru, melainkan upaya mengaktualisasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

"Ekoteologi adalah jembatan antara iman dan tanggung jawab, antara ibadah dan pelestarian kehidupan. Ini adalah panggilan moral untuk mengubah relasi manusia dengan alam dari eksploitasi menuju amanah," jelasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Indonesia telah mengarusutamakan ekoteologi sebagai bagian dari kebijakan strategis nasional melalui Kementerian Agama Republik Indonesia, sejalan dengan visi pembangunan yang menekankan harmoni manusia dan lingkungan.

Dalam forum tersebut, Nasaruddin juga mengajak negara-negara peserta menjadikan rumah ibadah sebagai contoh konkret dalam pelestarian lingkungan, mulai dari pola konsumsi hingga penerapan gaya hidup berkelanjutan. "Melindungi bumi bukan pilihan tambahan yang bisa ditunda, tetapi merupakan kewajiban agama dan tanggung jawab moral," tegasnya.

Konferensi ini turut dihadiri Tenaga Ahli Menteri Agama, Bunyamin M Yapid, yang mendampingi Menag selama kegiatan berlangsung.

Partisipasi Indonesia dalam forum tersebut menegaskan komitmen untuk menghadirkan nilai-nilai keagamaan sebagai solusi atas tantangan global, sekaligus memperkuat peran diplomasi keagamaan Indonesia di kancah internasional.

Editor: Gokli