Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Inflasi Kepri Maret 2026 Tercatat Melandai
Oleh : Aldy Daeng
Jumat | 03-04-2026 | 15:48 WIB
inflasi_kepri_maret.jpg Honda-Batam
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Batam-Inflasi Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada Maret 2026 tercatat melandai dan tetap berada dalam rentang sasaran.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri mengalami inflasi sebesar 0,08 persen secara bulanan (mtm), turun dibandingkan Februari yang mencapai 0,44 persen.

Secara tahunan, inflasi Kepri tercatat 3,23 persen (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya 3,54 persen dan di bawah inflasi nasional 3,48 persen.

Capaian ini menempatkan Kepri sebagai provinsi dengan inflasi tahunan terendah kelima di Sumatera.

Secara wilayah, inflasi bulanan terjadi di Kota Batam sebesar 0,11 persen dan Kabupaten Karimun sebesar 0,56 persen. Sementara itu, Kota Tanjungpinang justru mengalami deflasi sebesar 0,37 persen.

Dari sisi kelompok pengeluaran, inflasi terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 0,48 persen dengan andil 0,13 persen.

Kenaikan harga dipicu meningkatnya permintaan saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri, terutama pada komoditas udang basah, bayam, dan daging ayam ras.

Namun, tekanan inflasi tertahan oleh deflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa sebesar 1,12 persen dengan andil minus 0,08 persen, dipicu turunnya harga emas perhiasan seiring penguatan dolar AS.

Selain itu, kelompok transportasi juga mengalami deflasi 0,38 persen akibat penurunan tarif angkutan udara dan laut, sejalan dengan kebijakan diskon transportasi selama periode Lebaran.

Sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi dan kabupaten/kota dinilai tetap terjaga.

Bank Indonesia bersama TPID terus memperkuat upaya pengendalian inflasi melalui berbagai langkah, seperti High Level Meeting (HLM), edukasi publik, hingga pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah di seluruh wilayah Kepri.

Memasuki April 2026, sejumlah risiko inflasi perlu diwaspadai, di antaranya potensi El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat, normalisasi tarif transportasi, serta kenaikan harga energi global.

Meski demikian, ada faktor penahan inflasi seperti normalisasi harga emas perhiasan dan pergeseran masa panen sejumlah komoditas pangan.

Ke depan, Bank Indonesia bersama TPID akan terus memperkuat koordinasi, termasuk peningkatan produksi pangan dan penguatan kerja sama antar daerah, guna menjaga inflasi 2026 tetap berada dalam target 2,5±1 persen.

Editor: Surya