Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Indonesia-Jepang Teken Kerja Sama Energi dan Mineral Kritis
Oleh : Redaksi
Kamis | 26-03-2026 | 11:08 WIB
RI-Jepang-Energi.jpg Honda-Batam
Pertemuan bilateral antara Menteri ESDM RI, Bahlil Lahadalia, dan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI), Ryosei Akazawa, yang berlangsung di sela forum Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM), Senin (16/3/2026). (Kemlu)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo menyatakan komitmennya untuk mendukung dan mengawal implementasi kesepakatan strategis di sektor energi antara Indonesia dan Jepang.

Kesepakatan ini merupakan hasil pertemuan bilateral antara Menteri ESDM RI, Bahlil Lahadalia, dan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI), Ryosei Akazawa, yang berlangsung di sela forum Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM), Senin (16/3/2026).

Salah satu capaian utama dalam pertemuan tersebut adalah penandatanganan Memorandum of Cooperation (MoC) di bidang mineral kritis dan energi nuklir. Kesepakatan ini diharapkan dapat memperkuat sistem energi yang lebih terintegrasi, tangguh, dan berkelanjutan di kedua negara.

Duta Besar RI untuk Jepang dan Federasi Mikronesia, Nurmala Kartini Sjahrir, menegaskan bahwa kerja sama tersebut merupakan bagian dari kemitraan strategis komprehensif Indonesia dan Jepang dalam menghadapi tantangan transisi energi global.

"Kerja sama ini bukan sekadar nilai investasi, tetapi wujud kemitraan strategis yang akan kami kawal agar terealisasi dalam bentuk aksi nyata yang memberi nilai tambah bagi ekonomi nasional dan mempererat hubungan bilateral," ujar Kartini.

Dalam sektor mineral kritis, kerja sama difokuskan pada penguatan rantai pasok global yang lebih aman dan andal, sekaligus mendukung pengembangan teknologi energi bersih melalui pemanfaatan sumber daya strategis Indonesia.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyambut positif penandatanganan MoC tersebut dan membuka peluang kolaborasi luas dengan pemerintah serta pelaku usaha Jepang. "Kami sangat terbuka untuk bekerja sama dalam pengelolaan mineral kritis di Indonesia bersama pemerintah dan pengusaha Jepang," kata Bahlil.

Sementara itu, Ryosei Akazawa menekankan pentingnya penguatan kerja sama antarnegara guna menjaga ketahanan energi dan keberlanjutan pasokan di tengah dinamika global.

Dalam agenda yang sama, Menteri ESDM juga bertemu dengan CEO Inpex Corporation, Takayuki Ueda, untuk membahas percepatan proyek Blok Masela dengan nilai investasi mencapai USD 20 miliar atau sekitar Rp 339 triliun.

Kartini menyebut investasi tersebut sebagai tonggak penting bagi ketahanan energi nasional, sekaligus pendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur. "KBRI Tokyo akan terus memfasilitasi agar tahap Front-End Engineering and Design (FEED) dapat berjalan tepat waktu pada kuartal III 2026, sehingga target produksi pada 2029-2030 dapat tercapai," ujarnya.

Bahlil juga mengapresiasi progres proyek yang telah mencapai sekitar 25 persen. Ia menargetkan tahap FEED dapat dimulai pada kuartal II atau paling lambat kuartal III 2026, sehingga proses tender Engineering Procurement Construction (EPC) dapat berjalan paralel.

Menutup rangkaian agenda, Bahlil mengingatkan pihak Inpex agar konsisten memenuhi seluruh target yang telah disepakati guna memastikan keberlanjutan proyek strategis tersebut.

Editor: Gokli