Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

OJK Tegaskan Perbankan Nasional Tetap Solid Meski Outlook Negatif dari Lembaga Pemeringkat
Oleh : Aldy
Rabu | 25-03-2026 | 10:48 WIB
ojk-logo.jpg Honda-Batam
Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kinerja industri perbankan nasional tetap kuat dan tumbuh positif di tengah penyesuaian outlook negatif oleh lembaga pemeringkat internasional.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan bahwa perubahan outlook tersebut tidak mencerminkan pelemahan fundamental perbankan, melainkan dipengaruhi oleh revisi outlook peringkat kredit sovereign Indonesia dari stabil menjadi negatif serta dinamika ekonomi global.

"Pada dasarnya kondisi industri perbankan nasional berada dalam kondisi yang positif, dengan pertumbuhan kredit pada Januari 2026 sebesar 9,96 persen secara tahunan, sejalan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 13,48 persen," ujar Dian.

Ia menjelaskan, secara umum peringkat institusi keuangan dalam suatu negara mengikuti atau berada di bawah peringkat sovereign. Oleh karena itu, perubahan outlook pada bank-bank besar, termasuk Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), lebih dipicu faktor eksternal dan persepsi risiko terhadap negara.

Dari sisi kinerja, OJK mencatat kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 2,14 persen. Sementara itu, permodalan industri perbankan berada pada level kuat dengan rasio kecukupan modal mencapai 25,87 persen. Likuiditas juga dinilai sangat memadai, tercermin dari rasio AL/NCD, AL/DPK, dan LCR yang masing-masing berada jauh di atas ambang batas.

Pada kelompok bank besar, yakni KBMI 4 dan Himbara, pertumbuhan kredit tercatat mencapai dua digit, masing-masing 13,34 persen dan 13,43 persen. Di sisi pendanaan, pertumbuhan dana pihak ketiga juga tetap tinggi, yakni 16,32 persen untuk KBMI 4 dan 16,38 persen untuk Himbara, mencerminkan kepercayaan masyarakat yang kuat.

Ketahanan permodalan bank-bank besar juga tetap terjaga. Rasio CAR Himbara tercatat sebesar 20,32 persen, sedangkan KBMI 4 mencapai 22,33 persen. "Hal ini memberikan ruang ekspansi bisnis sekaligus menjadi bantalan yang kuat dalam menghadapi potensi risiko ke depan," kata Dian.

Dari aspek kualitas aset, rasio kredit bermasalah bruto berada pada kisaran di bawah 1 persen hingga 3 persen, dengan loan at risk (LaR) yang tetap terkendali serta didukung pencadangan yang memadai. Kondisi ini mencerminkan penerapan manajemen risiko dan tata kelola yang prudent.

Sepanjang 2025, bank-bank KBMI 4 dan Himbara juga mencatatkan kinerja laba yang positif, didorong keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi, serta kualitas aset.

Di tengah ketidakpastian global, Himbara dinilai tetap berperan strategis dalam mendukung pembiayaan sektor riil dan program prioritas pemerintah. OJK pun menegaskan akan terus memperkuat pengawasan agar prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko tetap dijalankan secara konsisten.

Dian menambahkan, penyesuaian outlook oleh lembaga seperti Moody's dan Fitch Ratings tidak secara langsung memengaruhi akses pendanaan perbankan. Saat ini, peringkat kredit bank KBMI 4 dan Himbara masih berada pada level investment grade dengan dukungan fundamental yang kuat.

Selain itu, struktur pendanaan perbankan nasional masih didominasi dana domestik, sehingga ketergantungan terhadap pembiayaan eksternal relatif terbatas. "OJK bersama para pemangku kepentingan, khususnya anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan, akan terus menjaga stabilitas sistem keuangan melalui koordinasi kebijakan dan penguatan pengawasan," ujar Dian.

OJK memandang penyesuaian outlook tersebut bersifat sementara dan berpotensi kembali membaik seiring perbaikan kondisi ekonomi global dan domestik, termasuk penguatan indikator fiskal dan eksternal.

Editor: Gokli