Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ekonomi Digital RI Diproyeksi Tembus USD 130 Miliar pada 2026, Pemerintah Perkuat Pengembangan AI
Oleh : Redaksi
Senin | 16-03-2026 | 10:28 WIB
Ali-Murtopo.jpg Honda-Batam
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon. (Kemenko Perekonomian)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi digital nasional terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di kawasan Asia Tenggara, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan melampaui USD 130 miliar pada 2026.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya penetrasi internet yang kini mencapai sekitar 79,5 persen dari total populasi. Selain itu, aktivitas transaksi digital juga terus meningkat, termasuk pembayaran digital yang tercatat lebih dari 4,7 miliar transaksi pada Januari 2026 atau tumbuh hampir 40 persen secara tahunan.

Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon, mengatakan perkembangan tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi digital utama di kawasan.

"Perkembangan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi digital utama di Asia Tenggara, dengan aliran investasi yang terus meningkat pada sektor teknologi dan infrastruktur digital," kata Ali dalam acara peluncuran awal ASOCIO Digital AI Summit 2026 dan ASOCIO Digital Award di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, pemerintah juga terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia digital untuk memastikan transformasi digital serta pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dapat memberikan dampak optimal bagi perekonomian nasional.

Ali menambahkan, penguatan ekonomi digital dan pengembangan teknologi mutakhir seperti AI menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi industri, serta daya saing ekonomi Indonesia di tingkat global. Teknologi AI bahkan diposisikan sebagai "mesin pertumbuhan baru" yang akan mempercepat transformasi berbagai sektor ekonomi.

"Teknologi AI tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional dan inovasi bisnis, tetapi juga membuka peluang model usaha baru, meningkatkan nilai tambah industri, serta memperkuat ekosistem ekonomi digital yang lebih dinamis dan berkelanjutan," ujarnya.

Sebagai upaya mendorong kolaborasi global di bidang teknologi, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia bekerja sama dengan Asian Oceanian Computing Industry Organization (ASOCIO) akan menggelar ASOCIO Digital AI Summit 2026 pada 29-31 Juli 2026 di Jakarta.

Forum tersebut akan mempertemukan pemerintah, pelaku industri teknologi, akademisi, dan inovator dari berbagai negara untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan kecerdasan buatan serta ekonomi digital di kawasan Asia dan Oseania.

Mengusung tema "Hybrid Intelligence Unbound: Reimagining Innovation, Infrastructure and Regional Sovereignty", forum tersebut akan membahas sejumlah agenda strategis, antara lain percepatan transformasi digital, penguatan tata kelola dan etika AI, pembangunan infrastruktur digital yang inklusif, peningkatan keterlibatan pelaku UMKM dalam ekosistem digital, serta perluasan investasi teknologi di kawasan.

Ali menegaskan bahwa Indonesia ingin memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat posisi sebagai pusat pertumbuhan teknologi di kawasan. "Sebagai tuan rumah ASOCIO Digital AI Summit 2026, Indonesia ingin menjadikan forum ini sebagai fondasi bagi perkembangan AI di masa depan. Pemerintah berharap pemanfaatan AI dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat melalui tiga pilar utama, yaitu ekonomi digital, industri semikonduktor, dan pemanfaatan teknologi canggih untuk meningkatkan daya saing industri nasional," kata Ali.

Acara peluncuran tersebut turut dihadiri Ketua Asosiasi Pengusaha TIK Nasional Soegiharto Santoso, Chairman ASOCIO Stan Singh-Jit, Chairman Organizing Committee Karim Taslim, perwakilan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, pelaku industri teknologi informasi dan komunikasi, serta sejumlah media nasional.

Editor: Gokli