Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Proyek Pipa Gas WNTS-Pemping Rp 1 Triliun Dorong Efisiensi Listrik dan Daya Saing Industri Batam
Oleh : Aldy
Rabu | 11-02-2026 | 14:48 WIB
WNTS-Pemping.jpg Honda-Batam
Pembangunan pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS) menuju Pulau Pemping oleh PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) senilai sekitar Rp 1 triliun. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Batam - Pembangunan pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS) menuju Pulau Pemping yang digarap PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dengan nilai investasi sekitar Rp 1 triliun diharapkan mampu menekan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik sekaligus menjaga daya saing kawasan industri di Batam.

Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto, mengatakan pasokan gas domestik yang lebih dekat dan stabil akan meningkatkan efisiensi pembangkitan listrik berbasis gas, yang selama ini menjadi tulang punggung sistem kelistrikan Batam. "Gas yang lebih dekat, stabil, dan berkelanjutan akan meningkatkan efisiensi pembangkitan. Ini menjadi faktor penting dalam menjaga tarif listrik tetap kompetitif bagi industri," ujarnya di Batam, Selasa (10/2/2026).

Ia menjelaskan, sebagian gas Natuna selama ini dialirkan ke Singapura, sementara Batam masih bergantung pada skema pasokan terbatas dengan biaya logistik tinggi. Melalui pipa WNTS-Pemping, gas akan diprioritaskan untuk kebutuhan domestik dengan kapasitas awal sekitar 33 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) yang ditingkatkan secara bertahap hingga 111 BBtud selama 11 tahun.

Menurut PLN EPI, seluruh volume gas tersebut dialokasikan untuk pasar domestik guna menjamin kepastian pasokan jangka panjang bagi pembangkit listrik di Batam dan wilayah Kepulauan Riau. Kepastian pasokan dinilai penting untuk menekan volatilitas biaya energi yang sering menjadi pertimbangan utama investor.

Dari sisi operasional, PLN menilai gas masih menjadi opsi paling ekonomis dibandingkan energi baru terbarukan (EBT) untuk menopang kebutuhan listrik Batam.

Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo, mengatakan keterbatasan potensi energi air dan gelombang serta tingginya kebutuhan investasi EBT skala industri membuat gas menjadi solusi transisi paling rasional. "Energi surya bisa dikembangkan, tetapi untuk beban dasar sistem kelistrikan, gas tetap yang paling efisien dan stabil. Ini berpengaruh langsung terhadap biaya listrik industri," katanya.

Rizal menambahkan, proyek pipa Pemping yang sempat tertunda hampir satu dekade kini telah mencapai progres sekitar 72 persen setelah PLN EPI menerima penugasan langsung. Dengan integrasi pasokan gas dari Wilayah Kerja Duyung, proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027-2028.

Kepala SKK Migas, Joko Siswanto, menilai realokasi gas Natuna untuk kebutuhan domestik akan memperkuat ketahanan energi nasional serta menekan risiko kenaikan biaya energi di kawasan industri. "Sekitar 111 BBtud gas Natuna akan disalurkan ke PLN selama 11 tahun. Ini memberikan kepastian harga dan volume yang berdampak pada stabilitas tarif listrik," ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Batam Amsakar Achmad menilai proyek tersebut strategis bagi iklim investasi daerah. Ia menyebut kebutuhan listrik Batam meningkat sekitar 15 persen per tahun, seiring realisasi investasi yang pada 2025 mencapai Rp 69,3 triliun.

"Biaya listrik adalah komponen utama biaya produksi industri. Kepastian pasokan gas akan membantu menahan kenaikan tarif dan menjaga iklim investasi tetap kompetitif," kata Amsakar.

Editor: Gokli