Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Pasar Modal Indonesia 2025 Menguat, Penerbitan Efek Naik 26 Persen dan Dana Obligasi-Sukuk Tembus Rekor
Oleh : Aldy
Senin | 09-02-2026 | 12:28 WIB
tembus-rekor.jpg Honda-Batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Batam - Kinerja pasar modal Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan tren penguatan pasca tahun politik 2024. Stabilitas yang mulai terbentuk tercermin dari meningkatnya aktivitas penerbitan efek serta tingginya minat perusahaan memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total 858 penerbitan efek sepanjang 2025 atau meningkat 26 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 680 penerbitan. Peningkatan ini menandakan aktivitas pasar kembali bergairah seiring membaiknya sentimen investor dan kondisi ekonomi nasional.

Selama periode tersebut, 26 perusahaan berhasil mencatatkan saham perdana di BEI. Dari sisi sektoral, Basic Materials dan Consumer Non-Cyclicals menjadi sektor dominan dengan masing-masing empat perusahaan tercatat. Sektor Basic Materials menghimpun dana sebesar Rp 5,1 triliun, sedangkan Consumer Non-Cyclicals meraup Rp 2,6 triliun, mencerminkan preferensi investor pada sektor dengan fundamental kuat dan relatif tahan terhadap fluktuasi ekonomi.

Kualitas perusahaan yang melantai di bursa juga mengalami peningkatan. Rata-rata dana yang dihimpun melalui IPO melonjak dari Rp 348,7 miliar pada 2024 menjadi Rp 696,1 miliar pada 2025. Lonjakan ini menunjukkan semakin matangnya skala usaha dan fundamental bisnis perusahaan yang masuk ke pasar modal.

Selain saham, aktivitas penerbitan obligasi dan sukuk turut mencatatkan kinerja positif. Hingga 31 Desember 2025, terdapat 181 emisi dari 79 perusahaan dengan total dana terhimpun mencapai Rp 216,64 triliun, menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah baik dari sisi jumlah emisi maupun nilai penghimpunan dana.

Komposisi penerbitan didominasi obligasi konvensional sebanyak 117 pencatatan, disusul sukuk mudharabah dengan 25 pencatatan. Sektor keuangan menjadi kontributor terbesar dengan 40 emisi dan total dana Rp 125,59 triliun, menunjukkan semakin kuatnya peran instrumen obligasi dan sukuk sebagai alternatif pembiayaan jangka menengah dan panjang.

Meski peluang terbuka lebar, perusahaan yang ingin masuk ke pasar modal tetap harus mempersiapkan berbagai aspek, mulai dari kesehatan keuangan, tata kelola perusahaan, struktur organisasi, hingga kepatuhan terhadap regulasi. Stabilitas ekonomi domestik dan dinamika global juga menjadi faktor eksternal yang memengaruhi kesiapan emiten.

Untuk meningkatkan kualitas calon emiten, BEI terus menyediakan program pembinaan, salah satunya IDX Incubator yang membuka pendaftaran hingga 8 Maret 2026. Program ini bertujuan membantu perusahaan memperkuat kesiapan bisnis, tata kelola, serta pemahaman mekanisme pasar modal sebelum melakukan IPO.

Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI, Listyorini Dian Pratiwi, menegaskan bahwa program tersebut tidak hanya mengejar jumlah perusahaan tercatat, tetapi juga kualitas emiten. "IDX Incubator tidak hanya bertujuan mendorong peningkatan jumlah perusahaan yang melantai di bursa, tetapi juga memastikan perusahaan memiliki kesiapan bisnis, tata kelola, serta pemahaman regulasi yang memadai. Dengan fondasi yang kuat sejak awal, kami berharap perusahaan tercatat dapat tumbuh berkelanjutan dan memberi nilai tambah bagi investor maupun perekonomian nasional," ujarnya.

Memasuki 2026, peluang perusahaan untuk memanfaatkan pasar modal diperkirakan semakin terbuka seiring stabilitas pasar yang lebih terjaga dan meningkatnya kualitas perusahaan yang masuk ke bursa. Dukungan program pembinaan juga diharapkan mampu memperkuat ekosistem pasar modal yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.

Editor: Gokli