Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Apindo Batam Soroti Kenaikan Harga Gas 35 Persen ke PLN, Dunia Usaha Khawatir Tarif Listrik Naik dan Picu PHK
Oleh : Aldy
Senin | 09-02-2026 | 10:28 WIB
picu-phk.jpg Honda-Batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Batam - Dunia usaha di Batam menghadapi tekanan biaya energi yang kian meningkat menyusul kenaikan harga gas sebesar 35 persen kepada PLN Batam. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mendorong penyesuaian tarif listrik yang dapat berdampak langsung pada sektor industri dan aktivitas ekonomi daerah.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, menyampaikan bahwa lonjakan harga gas berpeluang memicu kenaikan tarif listrik yang pada akhirnya memperberat beban operasional perusahaan. "Kalau harga gas ke PLN naik, maka PLN Batam kemungkinan akan melakukan penyesuaian tarif listrik. Kalau tarif listrik naik, otomatis akan berpengaruh besar terhadap dunia usaha dan industri di Batam," ujarnya saat dihubungi, Senin (9/2/2026).

Ia menjelaskan, pelaku industri sebelumnya telah lebih dulu menghadapi kenaikan harga gas yang signifikan sejak tahun lalu. Bahkan, tarif gas untuk sektor industri disebut meningkat hingga 100 persen dibandingkan tarif awal.

"Dunia industri sudah dikenai kenaikan tarif gas sampai 100 persen dari tarif awal. Artinya, kalau sekarang tarif listrik juga ikut naik, maka beban operasional perusahaan akan semakin berat," katanya.

Menurut Rafki, tekanan biaya energi yang terus meningkat berisiko memaksa perusahaan melakukan langkah efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja. "Kami khawatir perusahaan akan mengurangi karyawannya untuk menekan biaya. Kalau itu terjadi, angka pengangguran di Batam bisa makin meningkat," ungkapnya.

Ia menekankan bahwa stabilitas harga energi merupakan faktor penting bagi keberlangsungan daerah berbasis industri seperti Batam. Tanpa kepastian biaya energi yang terjangkau, daya saing kawasan industri berpotensi menurun dan berdampak luas terhadap perekonomian daerah.

"Batam ini hidup dari industri. Kalau biaya energi terus naik tanpa kendali, daya saing kita bisa turun dan itu berdampak luas, bukan hanya bagi pengusaha, tapi juga bagi pekerja dan perekonomian daerah," tutup Rafki.

Editor: Gokli